Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts

Friday, October 11, 2013

Faktanya, Nusantara Bukanlah Wilayah Majapahit

Simak berbagai mitos yang membayangi keagungan Majapahit dan bagaimana fakta sejatinya menurut tafsir Nagarakertagama.

majapahit,trowulan,wilayah majapahit,nusantara,
Wilayah Kerajaan Majapahit adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam National Geographic Indonesia edisi September 2012. Ahli arkeologi dan epifrafi Hasan Djafar menyayangkan banyak sejarawan yang menafsirkan bahwa Nusantara itulah wilayah Majapahit. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
majapahit,surya,lambang kerajaanSurya Majapahit, lambang kerajaan Majapahit. Kejayaan dan kekayaan kerajaan ini meninggalkan banyak bangunan, karya seni, dan harta tak bernilai lainnya. Kisah lengkapnya dalam Metropolitan yang Hilang di NGI September 2012. (Dwi Oblo).
majapahit,trowulan,kanal,candi,rumah majapahit,mojokerto,pembuat batu bata,world monument fundReruntuhan tembok batu bata tebal tinggalan Majapahit di sisi timur Trowulan. Pada 9 Oktober 2013, World Monument Fund mengumumkan bahwa Trowulan merupakan situs pusaka yang terancam kehancuran sehingga masuk dalam senarai World Monument Watch 2014. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Suatu hari pada awal 2012, saya berkesempatan berdiskusi dengan Hasan Djafar, seorang ahli arkeologi, epigrafi dan sejarah kuno. Lelaki dengan tutur dan penampilan bersahaja itu akrab dipanggil dengan sebutan ”Mang Hasan”. Saya menyampaikan kepadanya tentang sesuatu yang telah menjadi panutan umum: bahwa Majapahit mempunyai wilayah Nusantara yang teritorinya seperti Republik Indonesia.

“Itu omong kosong!” ujar Hasan, “tidak ada sumber yang mengatakan seperti itu.” Dia mengingatkan, kalau sejarah harus berdasarkan sumber berarti semuanya harus kembali ke sumber tertulisnya. “Wilayah Majapahit itu ada di Pulau Jawa―itu pun hanya― Jawa Timur dan Jawa Tengah.”

“Sayang sekali banyak ahli sejarah menafsirkan bahwa Nusantara itulah wilayah Majapahit!” Menurutnya, makna “nusa” adalah “pulau-pulau atau daerah”, sedangkan “antara” adalah “yang lain.” Jadi Nusantara pada masa Majapahit diartikan sebagai “daerah-daerah yang lain” ―karena kenyataannya memang di luar wilayah Majapahit.

Nusantara merupakan koalisi antara kerajaan-kerajaan yang turut bekerja untuk kepentingan bersama untuk keamanan dan perdagangan regional, demikian hemat Hasan. Mereka berkoalisi sebagai “mitra satata”―sahabat atau mitra dalam kedudukan yang sama.

“Jangan diartikan kepulauan di antara dua benua,” kata Hasan. “Bukan pula nusa yang lokasinya di antara.”

Sebagai kerajaan adikuasa setelah zaman Sriwijaya berakhir, Majapahit tetap berkepentingan dengan wilayah kerajaan-kerajaan itu sebagai daerah tujuan pemasaran dan sebagai penghasil sumber daya alam yang berpotensi perdagangan. Memang ada jalinan hubungan, namun hubungan ini tidak harus seperti penguasa dan yang dikuasai, bukan kekuasaan dalam artian politik. Ini adalah hubungan kepentingan bersama sehingga Majapahit juga berkepentingan untuk mengamankan dan melindungi wilayah-wilayah itu.

Namun demikian, sampai hari ini masih saja ada tafsir bahwa kerajaan-kerajaan itu memberikan upetinya setiap tahun kepada Majapahit. Hal ini seolah membuktikan ketundukkan kerajaan-kerajaan Nusantara dibawah supremasi Majapahit.

“Ini sering ditafsirkan sebagai upeti,” ujar Hasan. “Padahal, tidak ada satu kata pun dalam Nagarakertagama yang bisa diartikan sebagai upeti, apalagi upeti tanda tunduk seolah menjadi negara jajahan Majapahit.”

Berdasar uraian Nagarakertagama, Majapahit memang punya tradisi mengadakan suatu pesta besar setiap tahunnya. Seluruh penguasa wilayah–wilayah kerajaan itu diundang dan ada yang memberikan hadiah-hadiah kepada raja Majapahit, dan  menurut Hasan hadiah itu bukanlah upeti. “Buktinya, sejak Majapahit berkuasa sampai runtuh pun daerah-daerah itu bebas merdeka.”

Lalu mengapa sampai ada anggapan bahwa Nusantara itu adalah wilayah Majapahit? “Barangkali karena The Founding Fathers kita ingin menyatukan negara ini,” ujar Hasan lirih. Kemudian “Muhammad Yamin—salah satu tokoh pendiri negara Indonesia—menggunakan gagasan Nusantara sebagai bentuk negara kesatuan.”

Di sebuah toko buku bekas di Jakarta, saya pernah menemukan karya Yamin yang dimaksud oleh Hasan. Yamin, pernah menulis sebuah buku Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara yang terbit pertama kali pada 1945 dan telah dicetak ulang belasan kali. Buku itu mengisahkan epos kepahlawanan Gajah Mada sebagai Patih Kerajaan Majapahit.

Dalam lampirannya terdapat secarik peta wilayah Indonesia―terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud―dengan judul Daerah Nusantara dalam Keradjaan Madjapahit. Tentang peta ini Djaffar mengungkapkan bahwa “gagasan persatuan ini oleh para sejarawan telah ditafsirkan sebagai wilayah Majapahit sehingga seolah ada penaklukan. Itu salahnya!”

Yamin, dalam buku tersebut, juga menampilkan foto sekeping terakota yang mewujudkan sosok wajah lelaki berpipi tembem dan berbibir tebal. Di bawah foto sosok itu, Yamin dengan keyakinan ilmu firasat menuliskan, “Gajah Mada... Rupanya penuh dengan kegiatan yang mahatangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh.” Namun, belakangan saya menyaksikan kepingan terakota itu di Museum Trowulan yang sejatinya bagian dari celengan kuno dan tidak ada kaitannya dengan Gajah Mada.

Dan, buku Yamin itu―secara tak kita sadari―telah menjadi panutan dari sekolah-sekolah dasar di Indonesia hingga lembaga pemerintahnya. Kini, sebuah patung lelaki bertubuh gempal dengan wajah seperti dalam buku Yamin itu telah berdiri di halaman Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di Kebayoran Baru. “Itu skandal ilmiah dalam sejarah,” ujar Hasan.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI. Cuplikan dari "Metropolitan yang Hilang" dalam National Geographic Indonesia edisi September 2012.)

Sunday, September 30, 2012

(Jadul) Borobudur Buddhist Temple

Distant of the Borobudur Buddhist Temple and shrine.

Location: Java, Indonesia
Date taken: 1930
Man examining carving on walls of the Borobudur Buddhist Temple and shrine.

Location: Java, Indonesia
Date taken: 1935

Robert F. Kennedy visiting Borobudur, Buddhist Temple.

Location: Indonesia
Date taken: February 1962
Photographer: John Dominis

Location: Java, Indonesia

Poto-poto Bandung Conference 1955

Ali Sastroamidjojo (C) greeting Indonesia Pres. Sukarno (R) at the Bandung Conference.
All girl angklung orchestra, made up of Indonesian school teachers in native dress, performing for delegates during Bandung Conference.

Delegates attending Bandung Conference.

Flags of many nations and scouts line airstrip awaiting arrival of delegates to Bandung Conference.

Flags of many nations line airstrip awaiting arrival of delegates to Bandung Conference.

Place markers sitting on table in preparation for Bandung Conference.

Police holding back crowds during Bandung Conference.

Tables lining large room in preparation for Bandung Conference.

View of small hammer & sickle flag stretched on side of pedi-cab.

 

Location: Bandung, Indonesia
Date taken: April 1955
Photographer: Howard Sochurek

Foto-foto Konferensi Bandung 1955. Saya ambil dari sini.

Bung Karno: Kolonialisme dan Imperialisme

Bung Karno:

Kolonialisme dan Imperialisme hanya butuh empat hal:

1. bahan baku
2. pasar untuk barang-barang mereka
3. tempat penanaman modal
4. tenaga kerja murah.

(ketika menyampaikan pidato pembelaan di hadapan pengadilan kolonial)

Tahukah Anda Siapa Sebenarnya Daan Mogot Itu ?

Elias Daniel Mogot

Penduduk Jakarta pasti sudah pernah mendengar nama sebuah jalan bernama Daan Mogot. Jalan yang terbentang dari perempatan Grogol hingga Tangerang. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa nama jalan Daan Mogot itu berasal dari sebuah nama seorang pemuda? Pemuda belia itu bernama Elias Daniel Mogot. Daan Mogot adalah nama populer Elias Daniel Mogot. Pemuda ini cukup mengagumkan. Bayangkan ketika anak-anak saat ini yang berumur 14 tahun masih doyan main playstation ataupun ber-FB ria, ternyata saat umur 14 tahun Daan Mogot sudah ikut berperang.

Elias Daniel Mogot Berusia 20 Tahun

Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928, ini dibawa oleh orang tuanya ke Batavia (Jakarta) saat berumur 11 tahun. Daan Mogot adalah anak dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut). Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Di umur 14 tahun (tahun 1942) Daan Mogot masuk PETA (Pembela Tanah Air) yaitu organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, walaupaun sebenarnya ia tak memenuhi syarat karena usianya belum genap 18 tahun. Oleh prestasinya yang luar biasa ia diangkat menjadi pelatih PETA di Bali. Kemudian dipindahkan ke Batavia.

Saat kejatuhan Jepang dan selepas Proklamasi 1945, Daan Mogot bergabung dengan pemuda lainnya mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Uniknya saat itu Daan Mogot baru berusia 16 tahun namun sudah berpangkat Mayor.

Malang tak dapat ditolak, saat ia berjuang membela negeri ini, ayahnya tewas dibunuh oleh para perampok yang menganggap “orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda. Kesedihannya itu ia sampaikan pada sepupunya Alex Kawilarang.

“Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex Kawilarang.
“Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” kata Daan Mogot. “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Daan Mogot berkeinginan mencurahkan pengetahuannya, apa yang dulu didapatkannya saat masih dibawah PETA. Ia ingin mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara. Dan keinginan besarnya itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Akademi Milter di Tangerang 18 November 1945 bersama Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin. Dan Daan Mogot diangkat menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) saat ia berusia 17 tahun dengan calon Taruna pertama yang dilatih berjumlah ada 180 orang.

Hutan Lengkong – Serpong Tangerang
Pada tanggal 30 November 1945 dilakukan perundingan antara Indonesia dengan delegasi Sekutu. Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Agoes Salim yang didampingi oleh dua dua perwira TKR yaitu Mayor Wibowo dan Mayor Oetarjo. Sedangkan pihak Sekutu (Inggris), Brigadir ICA Lauder didampingi oleh Letkol Vanderpost (Afrika Selatan) dan Mayor West.

Pertemuan yang merupakan Meeting of Minds, menghasilkan ketetapan tentang pengambil-alihan primary objectives tentara Sekutu oleh TKR yang meliputi perlucutan senjata dan pemulangan 35 ribu tentara Jepang yang masih di Indonesia, pembebasan dan pemulangan Allied Prisoners of War and Internees (APWI) yang kebanyakan terdiri dari lelaki tua, wanita, dan anak-anak berkebangsaan Belanda dan Inggris sebanyak 36 ribu.

Berdasarkan kesepakatan 30 November 1945, tentara Sekutu tidak lagi memiliki alasan untuk memasuki wilayah kekuasaan Indonesia maupun menggunakan tentara Jepang untuk memerangi Indonesia dengan dalih mempertahankan status quo pra- Proklamasi. Perintah itu disampaikan oleh pihak Sekutu kepada Panglima Tentara Jepang Letjen Nagano.

Sekitar tanggal 5 Desember 1945 ditegaskan oleh Kolonel Yashimoto dari pimpinan tentara Jepang kepada pimpinan Kantor Penghubung TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo bahwa para komandan tentara Jepang setempat sesuai dengan keputusan pimpinan tentara Sekutu, telah diperintahkan tunduk kepada para komandan TKR setempat yang bertanggung jawab atas pemulangan mereka.

Namun pada tanggal 24 Januari 1946, Daan Mogot mendengar pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung. Dan bisa dipastikan mereka akan melakukan gerakan merebut senjata tentara Jepang di depot Lengkong.

Ini sangat berbahaya karena akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang. Untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang jatuh ke tangan sekutu, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha pada tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00. Ikut pula bersamanya beberapa orang perwira seperti Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo.

Dengan mengendarai tiga truk dan satu jip militer hasil rampasan dari Inggris, para prajurit berangkat dan sampai di markas Jepang Lengkong pukul 16.00 WIB. Di depan pintu gerbang, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dengan Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan taruna Alex Sajoeti (fasih bahasa Jepang) berjalan di depan. Pasukan taruna diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Kapten Abe, dari pihak Jepang, menerima ketiganya di dalam markas. Mendengar penjelasan maksud kedatangan mereka, Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta. Ia beralasan bahwa ia belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Saat perundingan berjalan, ternyata Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. 40 orang Jepang telah terkumpulkan di lapangan.

Namun entah mengapa, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Disusul tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Tentara Jepang yang berbaris di lapangan ikut pula memberikan perlawanan dengan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk milik TKR.Terjadilah pertempuran yang tak seimbang, apalagi pengalaman tempur dan persenjataan para Taruna tak sebanding dsengan pihak Jepang. Taruna MAT menjadi sasaran empuk, diterjang oleh senapan mesin, lemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Ketika mendengar pecahnya pertempuran, Mayor Daan Mogot segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Mayor Daan Mogot bersama beberapa pasukannya menyingkir meninggalkan asrama tentara Jepang, memasuki hutan karet yang dikenal sebagai hutan Lengkong.

Namun Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran ini tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan persenjataan dan persediaan peluru yang amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru

Monumen Lengkong
Dari pertempuran di hutan Lengkong, 33 taruna dan 3 perwira gugur serta 10 taruna luka berat. Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, hanya 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari.

Pasukan Jepang selanjutnya bertindak penuh kebuasan. Mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Ada yang tertangkap sesudah keluar dari tempat perlindungan, lalu diserahkan kepada Kempetai Bogor. Beberapa orang yang masih hidup (walau mereka dalam keadaan terluka) dipaksa untuk menggali kubur bagi teman-temannya.

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenasah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Mereka dikuburkan di dekat penjara anak-anak Tangerang. Hadir pula pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI Haji Agoes Salim yang puteranya bernama Sjewket Salim ikut gugur dalam peristiwa tersebut beserta para anggota keluarga taruna yang gugur. Dan bagi R.Margono Djojohadikusumo, pendiri BNI 1946, ia kehilangan dua putra terbaiknya yaitu Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna R.M. Soejono Djojohadikoesoemo (keduanya paman dari Prabowo Subianto).

Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Indonesia kemudian mengangkat Daan Mogot sebagai pahlawan nasional. Namanya juga diabadikan menjadi nama Jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Tangerang. Jalan Ini memiliki sahabat setia yaitu Kali Mookervaat.
Daan Mogot tutup usia pada tanggal 25 Januari tahun 1946. Hanya sempat merasakan sebulan hidup di usia 17 tahun atau dikenal sebagai saat sweet seventeen saat ini. Mungkin bagi anak muda akan diperingati sebagai masa yang indah, namun bagi Hadjari Singgih, pacar Mayor Daan Mogot, adalah sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi negeri ini. Kado yang terindah darinya adalah dengan memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenasah Daan Mogot.

Kini di antara kemewahan kawasan Serpong, Tangerang Selatan, “terselip” sebuah sejarah bernilai tinggi bagi Republik Indonesia. Sebuah rumah tua, bekas markas serdadu Jepang di Desa Lengkong, menjadi saksi “Pertempuran Lengkong.” Di sebelah kanan rumah itu berdiri sebuah monument yang dibangun sejak tahun 1993. Terukir sejumlah nama taruna dan perwira yang gugur dalam peristiwa heroik yang itu. Namun yang patut disayangkan adanya perbedaan antara museum Lengkong dengan obyek-obyek sejarah lainnya di Tanah Air ini.

Markas tentara Jepang di Desa Lengkong
Museum dan Monumen Lengkong bukanlah salah satu sarana obyek wisata yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luas. Pemanfaatannya hingga saat ini hanya sekedar tempat peringatan peristiwa pertempuran. Sehingga banyak dari masyarakat sekitar yang tidak tahu akan keberadaan bangunan historis tersebut. Apalagi seharusnya di museum terpampang foto-foto perjuangan para taruna militer di Indonesia beserta akademinya, namun sayang sekali foto-foto bersejarah tersebut kini berada di Akademi Militer Tangerang dan akan dipasang kembali tiap tanggal 25 Januari dalam upacara peringatan peristiwa Pertempuran Lengkong.

Kisah kepahlawanan Daan Mogot menjadi tamparan bagi kita, saat usia muda ia telah berbakti untuk negerinya. Seharusnya kita terus kabarkan, agar para pemuda tahu bahwa sejarah negeri ini bermula dari kaum pemuda. Agar para orang pemimpin negeri ini tak memandang remeh pada jeritan kaum muda. Simak dan renungkan, apa yang terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang.

Sumber kaskus
Link terkait
http://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Mogot
http://binhakim.blogspot.com/2011/03/daan-mogot-ksatria-muda-indonesia-umur.html
 

Poto-poto Lama (Jadul) dari Majalah Life

Sekitar bulan November 2008 Google dan Majalah Life mempublikasikan jutaan foto-foto lama yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Foto-foto lama ini dimulai dari tahun 1750. Foto-foto di bawah ini berlokasi di Indonesia, ini hanya sebagian saja, untuk lebih lengkapnya lihat di http://images.google.com/hosted/life.

Silakan search saja.

Credit to http://handoyoblog.blogspot.com
Center of busy city with traffic, Jakarta 1966
Djakarta's American-run hotel, in Indonesia 1966

Djakarta's main avenue, busy with traffic, 1966

Farmers, in fields surrounding Ambarrukmo Hotel in Jogjakarta 1966

Swedish telephones in ivory colored plastic amuse a crowd of Indonesian girls who take turns listening to recorded messages played over the phones, Jakarta 1955


Saturday, September 29, 2012

Lukisan Penangkapan Diponegoro

Lukisan Karya Raden Saleh
Satu-Satunya lukisan yang menunjukkan identitas nasional Indonesia
oleh Max de Bruijn & Yulia Irma Pattopang
Raden Saleh, yang dikenal sebagai pelukis kerajaan Belanda, membuat lukisan Penangkapan Diponegoro 28 Maret 1830 sebagai reaksi dan kritiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda atas lukisan serupa yang telah dibuat sebelumnya oleh seorang pelukis Belanda bernama N. Pieneman, berjudul Penaklukan Diponegoro.

LUKISAN PENAKLUKAN DIPONEGORO KARYA SEORANG PELUKIS BELANDA, N. PIENEMAN. DIBUAT BEBERAPA TAHUN SEBELUM RADEN SALEH MEMBUAT VERSINYA YANG MERUPAKAN KRITIKAN DAN DIBERI JUDUL PENANGKAPAN DIPONEGORO. LUKISAN RADEN SALEH TERSEBUT, DENGAN TAMPILAN YANG BAIK, SULIT SEKALI UNTUK DIDAPAT. [ SUMBER: N. PIENEMAN, RIJKSMUSEUM AMSTERDAM ]

Lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh sendiri rampung pada tahun 1857 ketika sang maestro berada di Indonesia. Namun lukisan ini akhirnya dihadiahkan untuk Raja Belanda, yaitu Willem III. Setelah lebih dari seratus tahun di tangan Belanda, lukisan ini akhirnya dikembalikan ke Indonesia. Ratu Juliana menghadiahkan lukisan ini kepada Indonesia pada kunjungannya di tahun 1976. Sejak itu lukisan ini berada di Istana Negara, tepatnya di Museum Istana.

Tidak banyak orang dapat melihat lukisan megah nan indah ini dan karena itu belum banyak yang tahu bahwa sebenarnya Indonesia memiliki sebuah lukisan yang mampu mewakili identitas nasionalnya yang sekaligus menjadi kekayaan sejarah, seni dan budaya.
 
Sebagian besar para pecinta seni tentunya sudah mengetahui tentang lukisan ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang asing dan tinggal di luar Indonesia, sementara rakyat Indonesia sendiri justru belum banyak yang mengetahui lukisan ini. Tidak seperti orang Belanda yang hampir semuanya mengenali lukisan karya Rembrandt yang termahsyur, yaitu The Nightwatch, salah satu lukisan yang mewakili identitas bangsa Belanda dan dikenal secara internasional.

Perlukah Indonesia memiliki sebuah lukisan yang dapat mewakili identitas nasional bangsa Indonesia? Perlu.
Negeri ini telah cukup lama berada dalam krisis.
 
Simbol-simbol identitas lain yang mencerminkan ciri khas bangsa Indonesia sudah sering kali tercabik-cabik oleh adanya pergolakan dalam negeri, munculnya kelompok-kelompok, konflik-konflik agama, dan masih banyak lagi. Lukisan tersebut dapat dijadikan sebuah simbol bangsa Indonesia yang direvitalisasi.

Mengapa lukisan ini dapat dijadikan contoh sebuah simbol yang mewakili identitas nasional bangsa Indonesia?
 
Pertama, lukisan ini dibuat oleh seorang master pelukis Indonesia, Raden Saleh. Beliau tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga di luar negeri.
 
Kedua, subyek lukisan ini adalah Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan besar bangsa Indonesia yang dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia.
 
Ketiga, lukisan ini sangat indah. Sebuah lukisan yang layak untuk dinikmati dan dibanggakan oleh banyak orang.

Terlebih lagi, lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, yaitu saat para pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro hampir memenangkan perlawanan yang dilakukannya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hanya karena sebuah pengkhianatanlah Belanda mampu mengakhiri perjuangan Diponegoro.

Lukisan ini dengan cakap mampu mengabadikan momen ini. Pangeran Diponegoro memang dikhianati tetapi bukan berarti dia mengaku kalah pada Belanda. Dengan bangga dia menunggu nasibnya dan meyakini bahwa suatu saat usaha perlawanan terhadap kekuasaan kolonial ini akan membawa hasil sebuah kemerdekaan. Ini adalah sebuah lukisan yang menjadi langkah awal terwujudnya sebuah kemerdekaan.

Adakah lukisan lain yang juga mampu menjadi simbol identitas nasional bangsa Indonesia?
Kemungkinan memang ada lukisan-lukisan lain yang dibuat oleh pelukis Indonesia lainnya yang juga mampu membangkitkan semangat patriotisme, persatuan nasional, kebanggaan dan kekaguman tersendiri. Namun kebanyakan pelukis Indonesia mulai berkarya setelah masa kemerdekaan dan meskipun banyak karya lukisan yang menggambarkan semangat kemerdekaan sebagai subyeknya, tidak banyak yang bisa menjadi andalan dan lebih dari yang lainnya.

Jika lukisan Raden Saleh ini begitu penting, mengapa selama ini banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya?
 
Sebuah pertanyaan yang bagus.
Lukisan ini sulit untuk diakses oleh orang banyak. Ketika Ratu Juliana menyerahkan lukisan ini pada tahun 1976 kepada Indonesia, lukisan ini diletakkan di salah satu ruangan dalam Istana Negara yang disebut Museum Istana Negara. Hanya segelintir orang yang dapat melihatnya secara langsung.
 
Cerita sejarah di balik lukisan ini sangat tak ternilai harganya oleh karena itu penting sekali untuk memeliharanya dengan baik dan benar. Lukisan harus dikelola dengan pemeliharaan ruangan yang bersuhu baik. Syukurlah Bagian Museum dan Sanggar Seni Istana Negara berkeinginan untuk merestorasi aset sejarah ini.

Hal ini dapat dibaca di situs www.presidensby.info. Dalam sebuah artikel yang bertanggal 17 Januari 2007 itu disebutkan bahwa pihak Museum Istana ingin sekali sesegera mungkin merestorasi lukisan Raden Saleh yang berjudul Penangkapan Diponegoro.

Penyelamatan lukisan Penangkapan Diponegoro memang harus secepatnya dilaksanakan, karena umurnya yang sudah cukup tua. Jika lukisan ini tergantung dalam sebuah ruang kerja atau ruang tamu, maka kondisinya bisa jadi akan semakin memburuk mengingat ruangan kerja atau kantor biasanya tidak memiliki pengaturan suhu yang tetap sepanjang waktu. Perubahan suhu dan kelembaban dapat menghancurkan lukisan.

Jika restorasi dan konservasi dapat direalisasikan maka hal selanjutnya adalah memperkenalkan lukisan ini ke khalayak banyak, terutama generasi muda Indonesia. Seluruh anak Indonesia harus mengetahui lukisan ini dan sesering mungkin dapat mengunjungi, melihat dan memperhatikannya, karena lukisan ini adalah cerminan rasa nasionalisme yang dimiliki oleh seorang putra bangsa.
 
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Pertama, mungkin sebaiknya ada sebuah ruangan dalam museum yang khusus menyajikan lukisan ini atau bahkan sebuah museum yang khusus dibuat untuk lukisan ini. Sebagai perbandingan: kebanyakan pengunjung Rijksmuseum Amsterdam, kurang lebih satu juta orang tiap tahunnya, datang hanya untuk melihat lukisan Nightwatch.
 
Museum ini haruslah memiliki sebuah ruangan besar yang dapat menampung ribuan pengunjung didalamnya. Salah satu kemungkinan tempat yang cocok adalah Istana Putih (The White Palace, bekas Istana Daendels atau gedung Departemen Keuangan sekarang) di Lapangan Banteng. Alternatif lainnya adalah rumah Raden Saleh sendiri di Jalan Raden Saleh, yang saat ini merupakan bagian dari Rumah Sakit Cikini. Tetapi infrastruktur daerah ini tidak cocok mengingat diperlukan juga tempat yang luas untuk bus-bus dan kendaraankendaraan besar yang parkir.

Upaya pelestarian aset bersejarah bangsa yang menyajikan kisah sejarah perjuangan bangsa merupakan salah satu usaha untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang mampu menghargai dan mengenali dengan baik sejarah perjuangan bangsanya.
Max de Bruijn, Sejarawan Belanda, banyak meneliti Batavia abad 18
Yulia Irma Pattopang, Asisten Proyek di PT Bruijn Bouvy
Source dari cahPamulang

Cetakan Tapak Kaki Presiden RI

 
 
 
 
 
Dilihat dari namanya, ritual tapak kaki ini dimulai dari pemerintahan Suharto. Disana terpampang nama Jenderal Besar Suharto pada nama beliau. Dimana pemberian jenderal bintang lima dilakukan pada tahun 1996. Jadi pengambilan tapak kaki tersebut dimulai setelah tahun 1996. Oleh karena itu, untuk Sukarno yang ada hanya tapak sepatunya saja.

Lokasi Seputaran Monas, depan Gedung Dep. Dalam Negeri
3 April 2009

 Credit to cahpamulang

Nagano Yuuitiroo

Abu Bakar Lubis

dari milis HISTORIA INDONESIA

Abu Bakar Lubis.Alm ( lahir tahun 1923) adalah mantan mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah kedokteran di zaman Jepang) yang sejak tahun 1945 aktif di pemerintahan R.I. Sejumlah kegiatan penah dilakukannya. Mulai jadi wartawan Berita Indonesia, staf Biro Perjuangan, staf Kementerian Pertahanan, staf Wakil Presiden Hatta di Bukit Tinggi (1947), kepala Bagian Pers perwakilan R.I di New Delhi. Abu Bakar Lubis adalah tokoh yang menangkap Tan Malaka untuk pertama kali pada tahun 1946. Dibawah ini sebagian tulisannya bekaitan keadaan R,I pasca serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 (60 tahun yang lalu).

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah Yogya jatuh 19 Desember 1948 dan pemimpin-pemimpin Republik tertangkap, Dr Beel wakil mahkota Belanda, melaporkan kepada pemerintahnya bahwa Republik sudah tiada. Perlawanan terhadap Belanda dilakukan di mana-mana, kegiatan gerilya meluas ke semua daerah pendudukan Belanda, se­dangkan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di bawah pim­pinan Mr Syafruddin Prawiranegara berfungsi di Sumatera, begitu pula Komisariat PDRI di Pulau Jawa, Mr Soesanto Tirtoprodjo. Menteri Luar Negerinya Mr Maramis, ada di New Delhi, dan semua Perwakilan Republik di luar negeri bekerja terus. Satu hal yang peilu disebut ialah bahwa hubungan radio dari daerahYogya (Wonosari) ke SumateraBarat dan Aceh, dan seterusnya ke Singapura dan Rangoon (Burma), terpelihara terus, sehing-ga kamidiluar negeri mempunyai juga gambaran tentang perjuangan yang terjadi di tanah air. Kami segera dapat mempergunakan berita-berita dari Indonesia untuk kepentingan propaganda kita seperti berita tentang serangan umum di Yogya pada tanggal 1 Maret 1949. Perhubungan radio ini dipelihara oleh kesatuan komunikasi AURI di Sumatera Barat yang pada waktu itu dipimpin oleh Komodor Udara Soejono, KSAU pada PDRI, sedangkan pemancar-pemancarnya berhasil diselundupkan oleh Dick Tamimi dan Dr. Soenarjo, seorang pewira AURI yang belugas di Singapura. Sebelum menjalani pensiun, Dr. Soenarjo menjadi Kepala LAP AN (Lembaga Antariksa Nasional). Juga terdapat hubungan radio dengan Aceh melalui pemancar yang menyebut dirinya Radio Rimba. Seperti diketahui, sewaktu Perang Kolonial Belanda berkecamuk di tanah air, saya sedang bertugas di New Delhi, jauh dari medan perang. Kami semuanya mengikuti perkembangan perlawanan terhadap agresi Belanda itu melalui berita-berita dari Suma­teraBarat dan Aceh, dan juga melalui warta berita radio BBC, Voice of America dan berita-berita dari kantor-kantor berita. Sulit bagi saya menceritakan perasaan yang terdapat pada diri saya ketika menerima pelbagai berita dari atau tentang perjuangan bersenjata yang sedang berkobardi tanah air. Rasa gembira jika ada berita sukses, yang segera dapat dipergunakan untuk kegiatan publisitas kita, atau rasa sedih dan pilu jika menerima berita duka atau berita yang kurang menggembirakan. Pada umumnya pada masa itu saya gelisah terus memikirkan kawan-kawan yang sedang berperang di tanah air. Saya sangat menyesal dan merasa bersalah terha­dap kawan-kawan yang sedang berjuang mempertaruhkan jiwa di hutan dan gunung, sedangkan saya sendiri bertugas di tempat aman.

Mengenai Dr Soenajo adakah yang bisa menambahkan informasinya ?

(dikutip dari Kilas Balik Revolusi UI Pres 1992)

Source dari sini

I Gusti Ketut Jelantik

I Gusti Ketut Jelantik adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849 – 1906. Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin menghapuskan hak tawan karang yang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-raja yang berkuasa di Bali untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya. Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup aku tidak akan mangakui kekuasaan Belanda di negeri ini". Perang ini berakhir sebagai suatu puputan, seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. Namun akhirnya ia harus mundur ke Gunung Batur, Kintamani. Pada saat inilah beliau gugur.

Sumber: Wikipedia Indonesia

Source dari sini

Indonesia - Palestina


Bukti dukungan kedua negara. CMIIW

Poto Bung Karno, Sartono, Samsi, Ali , Soetomo, dan MH Thamrin (1929)

Ini poto lumayan jarang ada sekaligus Bung Karno, Sartono, dr
Samsi , Ali Sostroamidjojo, Dr. Soetomo dan MH Thamrin pada 1929.

Salam,

carlos

Dari:
"Patriawan, Carlos"
Kepada:
komunitashistoria@yahoogroups.com
Selasa, 24 Maret, 2009 14:02

Source dari Bang Wahyu

Buku Sintong Panjaitan “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”

Aku sangat tertarik sekali membaca kisah-kisah militer jaman dulu. Ada kesan gimana gitu. Sekarang aku sedang baca di forum kaskus disini. Tentang “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Silakan baca kalo mau.

Ada kutipan Dandenpom Udayana ( NURHANATIRTAAMIJAYA) :
"Pada saat saya mengadakan penyidikan kasus 12 November Dilli pada tahun 1991 setelah beliau dicopot oleh Presiden RI, saya menemukan suatu konspirasi tingkat tinggi yang secara terselubung memang berniat mendiskreditkan beliau"
http://tirtaamijaya.wordpress.com/2007/09/04/mayjen-tni-sintong-panjaitan-pangdam-ix-udayana

"Mungkin ada yang udah baca bukunya ?"

Bung Karno di Depan Para Demonstran

Rasanja saja belon pernah liat laen orang poenja President jang sampe sebrani ini oentoek deket segitoe pendek djarak anatara ia dan para demostran!!!!, rasanja ini kedjadian soelit terdjadi lagi dibelahan doenia manapoen...

Lagu Indonesia Raya

Pada tahun 1924 Supratman menulis lagu Indonesia Raya atas anjuran dari H. Agus Salim yang ditulis di harian Fajar Asia agar komponis Indonesia membuat lagu kebangsaan. Dengan biolanya lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada penutupan acara Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta. Selain lagu kebangsaan tersebut ia menciptakan lagu lain yang tak asing bagi kita, seperti “Ibu Kita Kartini”, “Di Timur Matahari” dan “Bendera Kita”.

Sayang sejuta sayang, Supratman tak sempat menikmati dentuman proklamasi dan gaungnya lagu Indonesia Raya, ia meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1938.

Lirik asli lagu Indonesia Raya
Indonesia Raja

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku.
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru
“Indonesia bersatu.”
Hiduplah tanahku,
Hiduplah negriku,
Bangsaku, Rakyatku, se’mwanya.
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raja.

CHORUS:
Indonesia Raja, Merdeka, Merdeka
Tanahku, negriku jang kutjinta.
Indonesia Raja, Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raja.
Indonesia Raja, Merdeka, Merdeka
Tanahku, negriku jang kutjinta.
Indonesia Raja, Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raja.

Indonesia! Tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya.
Disanalah aku berada
Untuk slamalamanya.
Indonesia, Tanah pusaka,
Psaka Kita semuanya.
Marilah kita mendoa,
“Indonesia bahagia!”
Suburlah Tanahnja,
Suburlah jiwanja,
Bansanya, Rakyatnya semuanja.
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja
Untuk Indonesia Raja.

CHORUS

Indonesia! Tanah yang sutji,
Tanah kita yang sakti.
Disanalah aku berdiri
Ndjaga ibu sedjati.
Indonesia! Tanah berseri,
Tanah yung aku sayangi.
Marilah kita berjanji:
“Indonesia abadi!”
Slamatlah Rakyatnja,
Slamatlah putranja,
Pulaunya, lautnya semuanja.
Majulah Negrinja,
Majulah Pandunja
Untuk Indonesia Raja.

CHORUS

Denger juga midi-nya disini.

Friday, September 14, 2012

Proklamasi Indonesia

Kedua foto ini adalah dokumentasi Alex dan Frans Mendur dalam peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat Proklamasinya sendiri, tidak ada koran yang memuat. Baru pada tahun 1946 ada yang memunculkannya. Bahan-bahan diatas diambil dari Mingguan Merdeka 15 Juni 1946. Mingguan Merdeka adalah majalah tengah bulanan yang dipimpin oleh Rosihan Anwar (alhamdulillah beliau masih sehat). Keterangannya bisa dianggap bahan text yang amat autentik, bisa dipercaya serta historis.

Sumber: hoesein" <********@yahoo.com>

Dari milis Komunitas HISTORIA-Indonesia

http://groups.yahoo.com/group/komunitashistoria/

Source dari sini
 
 
 
 
 
Tahun 05

Dalam penjelasan ensiklopedia bebas wikipedia, naskah proklamasi ditulis tahun 05 karena sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

Berikut isi teks proklamasi:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Teks tersebut merupakan hasil ketikan Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Sementara naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh Hatta, A Soebardjo, dan dibantu oleh Soekarno sebagai pencatat. Adapun bunyi teks naskah otentik itu sebagai berikut:

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil2 bangsa Indonesia.


Berarti, jangan lagi tertawa jika ada yang membacakan naskah proklamasi dengan menyebut, "hari 17 bulan 8 tahun 05".

detiknews.com
http://ekohm.multiply.com/photos/album/109/proklamasi_indonesia
http://ekohm.multiply.com/photos/album/298/Proklamasi
http://ekohm.multiply.com/photos/album/109/proklamasi-indonesia