Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts

Saturday, September 29, 2012

Seniman adalah

Seniman adalah orang yang membuahkan karya dan tidak berpikir rumit apakah karyaku ini akan membentuk komunitas atau tidak, memberi sumbangsih atau tidak, karena mereka tahu bahwa diri yang jelas nyata ada itu akan memberikan sumbangsih kepada dunia meski ia diam dan tak melakukan apa-apa.

Jadi, mengapa seniman terlalu repot memikirkan apakah karya seninya itu produktif, diakui, diberi label halal, ataukah menjadi booming? Ia seharusnya lepas dari ini. Kita seharusnya tidak terikat dengan ketakutan-ketakutan semacam ini.

(by Aida Vyasa dalam Taman Sunyi Sekala hal.125-126)


Baca selengkapnya

Friday, September 14, 2012

Puisi-puisi Solopos (bagian 12 habis)

Feb 21, '10 8:31 AM
untuk semuanya
Secercah harapan

Ketika pikiran bercampur seribu keinginan
Hatipun tak sanggup menahan
Ku kerahkan segenap kekuatan
Tuk menahan gejolak nafsu
Iman akan bersemi lagi
Di bawah naungan Ilahi
Dan akan terus berkembang di dalam hati
Selama ”Laa ilaaha illalloh” masih
mengakar di hati


Di ujung gelisah

Seekor burung menari di ujung gelisah
Menanti kepastian yang tak pasti
Di antara gelap dan terang
Sekarang langit yang kutuju telah runtuh
Seekor burung menari di ujung gelisah
Menunggu air kebahagiaan
Yang kubutuhkan hanyalah...
Kesabaran dan kesungguhan

- Ade Nurrohmat Himmahwan

Solopos

Dec 20, '09 2:57 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 20 Desember 2009 , Hal.IV


Seguncang cerita duka


Selamat datang kembali
Di tanah kami, di ratap duka ini

Hadirmu tak tertulis dalam mimpi
Tapi tinggalkan pilu dalam hati
Seguncang duka sejuta lara
Kau datang memupus asa
Mengajak jiwa berlalu
Dari raga yang membiru
Kenapa kau begitu rindu duka ini
Mengapa kau selalu ingin air mata ini
Tanpa beri waktu untuk kami menata hati
Selalu kau tengok suka kami
Tak henti kau beri belati pada hati
Seberapa suka kau pada tangis kami
Kini...
Kering sudah, genangan pada kelopak mata
Tak ada lagi sisa untuk nestapa
Yang akan datang


Terdengar sendu mengeluh

Pada ratap hampa ujung senja
Terulang dan berulang
Seiring cahaya menggiring hari
Menjadi hamba derita dengan segenap jiwa
Berkawan stumpuk sampah yang
Enggan bercerita
Sedang nasib terus memaksa
Memulung hari membunuh asa
Sungguh, tak ada daya untuk berbelas
Tak ada waktu menghitung pagi
Karena untukmu:
Kebahagiaan adalah seintip nasi

- *) Achmadi Joko Siswanto
Alumni Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS

Solopos

Dec 8, '09 1:12 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 06 Desember 2009 , Hal.XI

Malam pengharapan


Ke manakah raga di saat jiwa gundah
Ketika rembulan bersinar temaram
Berbalut angin yang dingin. Sepi
Adakah raga menghentak-hentak
Memanah rembulan dengan panas mentari
Membakar kesadaran dengan dosa
Menghujam dunia dengan belati
Ataukah raga ini bersimpuh
Di atas sajadah merah lusuh. Tunduk
Sambil berkata “Aku kerdil, Engkau yang akbar!”
Sampai gundah terbawa dalam mimpi. Pengharapan


Menikam maut

Seandainya bisa kutaruh nyawa di antara sujud panjangku
Di bawah basah desah zikirku
Saat malaikat terbang menjemput namaku
Aku pun terbang sendiri menjemput maut
Di antara langkah roda hidupku
Di antara bentangan tangan
Pada pagi siang dan malam
Di terang dan gelap dunia
Sepanjang usia. Misteri
Aku mencoba menikam maut
Dengan gerak lafal basmalah. Di setiap waktu


Laju bus semakin lambat

Begitulah cerita sore itu ada kegetiran di dada
Napas memburu meninggalkan laju bus yang terengah-engah
Di tengah pengembaraan jati diri
Ditemukan seonggok penantian dan harapan
Pada jiwa letih. Ketidakberdayaan adalah hakikat raga
Laju bus semakin lambat pada pendakian petang
Di gunung-gunung tertinggi kepasrahan
Ketika napas tinggal sepenggal
Dan detak melambat. Berhenti
Laju bus semakin lambat
Di manakah muaranya?

*) Wahyu Priyono
Penulis kelahiran 30 tahun yang lalu. Merangkum puisi karya sendiri dalam buku Nyanyian Jiwa; 2001 dan Antologi Adalah Cinta; 2004. Beberapa karyanya telah dimuat berbagai media, baik nasional maupun daerah. -

Solopos

Nov 25, '09 3:22 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 22 November 2009 , Hal.IV

Sembunyi alang-alang


Setelah sakit
Aku menjadi angin
Suaraku pelan untuk mengabarkan orang-orang yang akan mati
Entah, karena kusta, entah karena alergi
Bunyi anak yang menangis di pucuk rembulan
Sangsikan aku untuk melihat malam

Malam yang hening
Sehening doaku meratapi perjalanan
Bangkai waktu yang tersisa masih mengancamku
Menguraikan jeda puisi yang tertunda

Sekelebat panji-panji sudah diturunkan
Menuai kisah alang-alang kembali.
Klaten, Maret ‘09


Mengulang lagu lama

Aku kenang balada di sangkar burung
Yang koyak karena memandang badai
Seribu saudara mati, tanpa disimpan dalam hati
Aku mengulang lagu lama
Kenangan akan negeri yang elok
Terisak menggurat harga-harga yang tinggi
Mencederai nisan para pahlawan
Yang berlumut dimakan usia
Sekarang tak bisa berjanji di huma yang rimbun
Selalu kita ciptakan lagu yang tak pernah kita mengerti
Klaten, April ‘09

- *) Dendy Rudiyanta
Lahir di Klaten, 25 Maret 1974. Selain disibukkan kegiatan bisnis, juga beraktivitas teater di Klaten. Sejumlah karya puisi juga pernah dibukukan. Dua karya puisi juga pernah menjadi karya nominasi pada aj...

Solopos

Nov 25, '09 3:20 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 22 November 2009 , Hal.IX


Dua puluh satu tahun silam
Kau tlah perjuangkan segenap jiwa ragamu
Demi aku... anakmu...
Cintamu yang tulus dan suci
Tlah turut mendampingiku
Untuk mengarungi bahtera kehidupan ini

Siang malam bahkan hujan badai sekalipun
Kau tak henti peras keringat tuk sesuap nasi
Demi aku... anakmu...
Kasihmu yang tak pernah lekang oleh waktu
Mengiringi langkah hidupku waktu demi waktu

Maafkan aku wahai ibu...
Terkadang ku tak sadar tlah melukai batinmu
Kesabaranmu tlah mendewasakanku
Kasih sayangmu memberi keceriaan dalam hidupku
Cahaya batinmu tlah menuntunku
Temukan sebuah arti hidup

Aku bangga menjadi anakmu wahai ibuku...
Inginku bahagiakanmu di setiap waktuku
Ku kan berusaha persembahkan yang terbaik untukmu

Wahai ibu...
Jangan pernah kau ambil cintamu dari sisiku
Jangan pernah kau biarkan diri ini sendiri
Dalam kegelapan hidup
Tanpa arah... tanpa tujuan...

Wahai ibu...
Ku amat merindukanmu surga di telapak kakimu
Bimbing aku wahai ibu...
Karena cintamu tak kan lekang oleh waktu

- Muhammad Mahfudh A
Kelas IX IPA 2, MA Negeri 2 Solo -

Solopos

Nov 25, '09 3:13 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 15 November 2009 , Hal.IV

Janji


Setiap kali kau janji
Sebelum jabatan kau isi
Janjimu janjimu jalankan jabatan dengan suci
Janjimu janjimu jalankan jabatan dengan jujur hati
Setiap kali kau disumpah
Sebelum kursi jabatan kau jamah
Kau pejabat yang gagah
Kau pejabat yang bergairah

Ketika jabatan kau jalankan
Lupa diri, lupa janji
Ketika duduki kursi kekuasaan
Lupa juur hati, lupa langkah suci
Kau keruk harta negeri
Kau korupsi
Kau korupsi
Kau lupa janji
Kau lupa diri
Kau lupa bahwa jabatan adalah amanah yang suci!
2009


Nyaman

area nyaman
area yang nyaman dan aman
terkecapi rasa
rasa hati rasa diri rasa tentram
diri jadi nyaman
jati diri jadi aman

melaut tubuh kapan mau
melarutkan keraguan terkini
nyaman diri sudah sehati
nyaman diri sudah terpatri
nyaman diri sudah sempurna

area nyaman
area aman
sehati bersahabat erat
saat menjabat dekat terikat
saat menjabat lekati di dalam amanat

area nyaman
area aman
tercipta dengan kendali diri
tercipta dengan kendali jati diri
2009

- *) Agus Budi Wahyudi
Staf Pengajar PBSID, FKIP, UMS dan Magister Kajian Bahasa Pascasrjana UMS.

Solopos

Nov 25, '09 3:08 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 15 November 2009 , Hal.IX


Ketika hidup di atas seutas benang
Bayang-bayang kematian semakin dekat
Batu nan tajam lagi terjal menanti
Air raksa yang selalu bersorai senang
Angin dingin berbisik menghantui
Menarik tegak bulu kudukku
Buahkan rasa sakit yang mendalam
Tiada elang yang datang
Untuk sekadar mencengkeramku
Dan membawaku pergi jauh
Jauh dari jurang kematian
Jauh dari segala yang menakutkan
Agar aku tetap bertahan hidup
Agar aku dapat mengukir kehidupan lagi
Seperti sedia kala
Di mana aku dapat menatapmu
Melihat dari ujung dunia
Karena tembok tinggi membentengi
Dan darah berganti mengalir dari mataku
Walau kau terus bersumpah
Hanya Tuhanlah yang dapat menentukan
Surakarta, 22 November 2007

- Fitria Apriliani
SMA Al-Islam 1 Solo, Jl Honggowongso 94, Solo 57149.

Solopos

Nov 15, '09 8:54 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 08 November 2009 , Hal.IV

Perjanjian malam itu

Malaikat mencibir pertemuan kita
Pada sudut hati yang terdiam
Membisu
Tak mengumbar secerca cercaan pun
Terlarut perlahan
Bagaikan adukan gula dalam cangkir
Tanpa serbuk kopi
Tanpa sejumput teh
Malaikat semakin palingkan mukanya
Seraya mencatat hasil diskusi
Atas perjanjian rahasia antara kita

Permainan alam

Kau suguhkan jamuan makan malam untukku
Di atas piring tertata rapi bunga mawar
Secawan air menemani kesepian sang dupa terbakar
Tarian bibirmu
Isyarat perbincangan malam itu
Mengalir perlahan, darahmu
Seiring hembusan asap dupa
Dengan selembar kain putih yang membalut satu sayatan
Kau masih asyik dengan permainanmu
Menanggalkan mimpi dengan satu rahasia
Di musim dingin: musim penuh kekuatan

Persembunyian

Di garis merah bebatuan
semburat lapisan endodermis mengendap
mengalir
pada kekuatan magnetik bumi
panas
menyembur
lumpur tiba-tiba mengenang
bukan oase
bukan geiser
di garis merah bebatuan
tertimbun peristiwa-peristiwa langka
beribu abad yang lalu
rapi tersimpan
di sebuah bingkai kenistaan

- *) Wati Istanti SPd MPd
Lahir di Solo, 10 April 1985. Saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di Sekolah Internasional di Solo: Singapore Piaget Academy. Aktif menulis sajak-sajak yang telah dimuat di media cetak.

Solopos

Nov 15, '09 8:42 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 08 November 2009 , Hal.X

Luka

Pancaran sinar menutup kalbu
Sekejap mata menghilangkan rasa
Sepucuk rindu tak lagi menggebu
Relung hati terasa hampa
Kebencian terus membelenggu
Tak ada lagi cahaya rindu
Membuat hati semakin membeku
Berat rasanya tuk maafkanmu

Hati kecilku berkata
Kau tlah menyakitinya
Tak dapat terobati begitu saja
Hanya karena satu cinta


Penantian

Sinar matamu teduhkan jiwaku
Hangat terasa bagai selimut rindu
Mawar merah tumbuh dalam taman hatiku
Menebarkan pesona harum cantikmu

Sejuta rasa dan kata tlah terucap
Namun tak pernah ada jawab
Tembok baja bertengger di depan mata
Menghalangi semua cita dan rasa

Asaku takkan pernah mati untukmu
Penantianku takkan lekang oleh waktu
Hingga terucap satu jawaban dari bibirmu
Aku akan slalu menunggumu, hingga batas masaku

Alifta Mubarokah
Kerten RT 04/IV, Solo

Solopos

Nov 2, '09 1:28 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 01 November 2009 , Hal.IV


Sajak untuk negeriku

Haturku pada pejuang negeri
Dikala merah menjadi darah
Dan putih tertatih-tatih
Demi perjuangan Sang merah putih

Sumpahku pada bangsaku
Sewaktu tanah mulai menggersang
Dan air sumur menjadi kering
Hatiku tak kan pernah berpaling
Karna kau tanah airku:
Indonesia


Sent To: Indonesia

“Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta...”

Begitulah Supratman mencipta syair lagu
Penuh makna dikandung
Selayak membangkitkan jiwa patriotis

Meski Lapindo terus mengganas
Pun dengan teroris yang makin agresif
Pula pasca lepasnya sinpadan dan ligitan
Namun cintaku padamu akan tetap berlabuh

Tak kan ada negeri setegar ini

“Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia raya...”

*) Johan Bhimo Sukoco
Mahasiswa D3 Manajemen Administrasi FISIP UNS Solo.

Solopos

Nov 2, '09 1:25 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 01 November 2009 , Hal.IX


Luka, cinta dan air mata


Dalam langkahku ada tawamu
Dalam bahagiaku ada bayanganmu
Dalam senduku ada duniamu

Mungkin mulut ini tertawa
Tapi hati ini tersayat
Luka, luka dan luka
Kau gores dengan pisau kata-kata
Yang menyayat hati

Rasanya ragaku tak mampu lagi
Namun cinta ini tak tercecer
Tak terseok untuk lain hati
Jiwa ini terpatri untukmu
Hanya satu pinta
Dari hati yang kau sakiti
Semoga ini yang terakhir
Luka itu kau gores lagi


Bertahan

Separuh nafasku mati
Memantul harap tak kembali
Kau tampak hanya di sisi
Namun sebenarnya kau tak ada
Di mana ada semu
Di mana ada kamu

Kaki ini tak mengerti
Untuk melangkah ke mana lagi
Rasanya telah sepi, mati
Tak tersisa lagi
Kau yang kuharap
Terdiam di dinding batu
Terpaku bersama keheningan

Mulutku tertatih,
Langkahku terseok
Terasa tak bernyawa lagi
Mati, mati dan mati
Bisakah bertahan
Di saat hati tak terpaut lagi

Latifah
SMA Negeri 7 Solo, Jl Mr Muh Yamin 79 Solo.

Solopos

Oct 26, '09 2:30 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 25 Oktober 2009 , Hal.IX


Derai-derai air matamu
Aku rasakan dengan pedih
Telah kau hadapi petaka yang menimpamu
Dengan semangat
Tapi aku juga merasakan
Kelemahan jiwa yang merayap di lubuk hatimu
Aku merasakannya
Sahabat...
Betapa kau kehilangan semuanya
Saudaramu, orangtuamu, semua yang kau cintai
Aku turut merasakannya,
Sahabat...
Untaian-untaian kenangan yang selalu kau ingat
Di sela-sela tidur nyenyakmu untuk yang tersayang
Hanya ini yang mampu ku ucapkan untukmu,
Sahabat kecilku...
Tetaplah tabah menjalaninya
Kau guru ketegaran bagi kami
Kami berdoa untukmu
Untuk orang-orang yang telah mendahului
Tenanglah,
Sahabatku...
Hidup akan tetap berjalan
Dan kau akan baik-baik saja dengan lindungan Tuhan
Untuk sahabat-sahabatku di Padang, Sumbar

*) Abda Rais Syihab
kelas VII A, SMP Negeri 1 Gondangrejo, Karanganyar.

Solopos

Oct 19, '09 10:25 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 18 Oktober 2009 , Hal.IX
.
Ketika rumah tak lagi jadi dewa
Aku merengek
Minta tak dilahirkan
Tapi apa guna?
Aku masih di sini
Menutup telinga
Sambil bertetesan air mata
Dua orang itu!
Berkobar amarah, menampik anaknya
Mereka tak pikirkan aku
Berkoar-koar, memecah
Jiwaku hampir mati
Merenungi keluarga
Yang kini bukan keluarga
Pecah
Kini, aku sendiri

Maria Monasias N
kelas XI 1A 5, SMAN 3 Solo, Jl RE Martadinata No 143, Solo. - .

Solopos

Oct 12, '09 11:23 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 11 Oktober 2009 , Hal.IV

Nasihat Ibu

Anakku!
jagalah hitungan pada tempat sebenarnya

perkalian tetap perkalian
tidak pernah menjadi pembagian
satu kali satu, tetap menjadi satu

penambahan tetap penambahan
jangan berubah pengurangan
satu ditambah satu, tetap menjadi dua

pembagian tetap pembagian
jangan berpikir untuk menjadi penambahan
satu dibagi satu, tetap menjadi satu

pengurangan tetap pengurangan
jangan dijadikan untuk perkalian
satu dikurangi satu, tetap menjadi nol

hitungan itu milik keabadian, anakku!

* Padhepokan Djagat Djawa, Magelang 30109


Mencari jejak

Langkah-langkah telah menghitung kaki
Kembali memberi tanda
Hari telah menyelesaikan waktu
Untuk dicatat dalam bumi

Malam telah rebah di gelapan
Mencari letak itu tersembunyi
Dari keterkurungan garis cakrawala
Bertanda kabut. Di keterasingan jalanan

Letak kaki-kaki, terjaga sudah
Sambil menunggu tanda-tanda
Dari peradaban yang terjaga
Memecah jalan. Menapak zaman

* Stasiun Gambir, Jakarta 30808

*) Triman Laksana
Yogyakarta 7 Juni 1961, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Guru Tidak Tetap di SD Pabelan 02 dan Guru Eskul Sastra dan Teater di SMPN I Mungkid, Magelang.
Solopos

Oct 12, '09 11:17 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 11 Oktober 2009 , Hal.IX

Kehidupan

Diri berdiri tegak di sini
Tatap mata di depan sana
Pada aneka rupa pernik kehidupan
Yang penuh dengan tawa canda
Namun ada pula
Yang penuh dengan sedu sedan
Semaunya itu ada pada diri setiap insan
Dalam mengarungi bahtera kehidupan
Di dunia yang tak abadi


Renungan

Tatap mataku sendu
Bibirku kelu
Tenggorokanku kering
Suaraku pun hilang

Semuanya takkan ada artinya
Bila kau jauh dariku
Namun aku yakin dan percaya
Jika engkau begitu dekat Tuhan
Di sekujur tubuhku
Yang lemah dan penuh dosa ini


Malam

Sungguh, malam yang sunyi
Suara jangkrik yang berkerik
Menambah kesunyian malam ini

Di luar sana
Bintang-bintang bertaburan di angkasa raya
N’tuk terangi persada yang kelam

Malam yang gulita
Membuat orang terlelap tidur
Dalam mimpinya yang indah

*) Christina Rikawati Sri Wahyuni
Jl Bukit Mawar III/F-210 RT 02/RW 24, Sendangmulyo, Tembalang, Semarang

Solopos

Oct 5, '09 10:57 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 04 Oktober 2009 , Hal.IV

Cahaya

Gulita malam gulita hati
Genap gelap sang suci hati
Gulita malam gulita jiwa
Genap gelap sang hawa rasa
Gulita malam gulita jati diri
Genap gelap sang diri sejati

Telah gulita malam-malamku
Telah gulita hati, jiwa, jati diri yang dhuafa
Genap gelapnya segala suasana!

Kumohon cahaya pada-Mu
Doa, zikir kumengalir
Kumohon serpih cahaya-Mu
Menerangiku dalam segala suasana!

Kumohon cahaya-Mu
Menerangi langkahku
Menerangi langitku

Tuhanku, Maha Cahaya
Mana cahaya untukku?!


Bom

Ini waktu bukan untuk tertawa
Ini waktu bukan untuk bercanda
Ini waktu bukan untuk menera nama
Ini waktu bukan untuk berbagi cerita

Bom telah benar-benar meledak
Luluh lantak badan orang tubuh bangunan
Luluh lantak badan organisasi tubuh para korban

Bom telah galak dan menyalak
Luluh tubuh keamanan
Luluh seluruh kedamaian

Ini waktu untuk berduka
Ini waktu untuk terluka
Ini waktu untuk menderita
Ini waktu untuk mendata yang duka

Bom telah meledak
Bom telah menyalak
Suasana tak nyenyak

Siapa yang tak jinak?
Siapa yang tak lunak?
Aku dan Kau tidak bijak!

*) Agus Budi Wahyudi

Solopos

Oct 5, '09 10:50 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 04 Oktober 2009 , Hal.IX

Ketupat tak kudapat

Bunda,
Tak ada ketupat di meja tahun ini
Bunda,
Rumah kita pun hanya berupa tenda
Bunda,
Kenapa tahun ini tak ada ketupat?
Tanah kita berguncang hebat
Bunda,
Salah semua manusia atau
Hanya kita di Tasikmalaya?
Bunda,
Ku hanya ingin ketupat tahun ini


Lebaran di mata si miskin

Beduk-beduk berlomba bertalu
Ingar-bingarnya kian bersenandung merdu
Tak lupa takbir yang berkumandang
Aku termenung melihat hamparan putih
Orang-orang berbaju putih bersih
Ku bisa cium, bau khas dari toko
Kupalingkan mukaku
”Jangan iri-jangan iri”
Begitu kataku dalam hati
Hanya aku sosok sendiri dengan baju putih kecokelatan
Baju bekas!!!

Shanti Mareta Dewi
Kelas XII SMP Warga, Solo, Jl Monginsidi No 15 Solo. -

Solopos

Oct 2, '09 10:32 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 27 September 2009 , Hal.IX

Permohonan diri

Kupandangi langit malam
Bertaburan bintang dan cahaya rembulan
Membentuk sebuah senyuman perdamaian
Ku tengadahkan kedua tangan
Menghadap Raja Kehidupan
Ku curahkan kata dalam hati
Memohon tuk ampunan diri
Dari puing-puing kesalahan
Dari gelapnya hati
Menjalani semasa kehidupan
Ku bersujud di atas bumi
Untuk berserah diri kepada-Mu ya ... Rabbi
Ku percaya Engkau cahaya penghapus dosa
Di dalam setiap umat manusia


Penyesalan

Aku ingin seperti mereka
Bahagia tak kenal merana
Aku ingin seperti dia
Mati syahid di hadapannya
Kini...
Sepercik dosa tlah terbawa
Setetes amal tlah tiada
Hilang tak tau ke mana
Ditelan badai sajadah cinta

Noviana Endah Safitri,
SMK N 1 Solo,
Jl Sungai Kapuas No 28, Solo.

Solopos

Aug 29, '09 10:03 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 23 Agustus 2009 , Hal.VIII

Bintang

Kau begitu indah
Cahayamu berkerlipan di malam hari
Menerangi bumi yang telah gulita
Jumlahnya tak terhitung
Oleh tanganku yang mungil

Kau laksana cahaya yang gemilang
Di malam hari yang syahdu
Begitu banyak kata yang dapat
Ungkapkan segala keindahanmu
Namun satu yang pasti
Kau adalah penerang yang bermanfaat
Bagi kehidupan semua makhluk hidup
Di bumi tercinta ini


Kasihmu Tuhan

KasihMu begitu indah
KasihMu begitu membahagiakan
KasihMu tanpa pamrih
KasihMu penuh pengorbanan
KasihMu begitu pemaaf sekaligus pengampun

KasihMu selalu hadir dalam
Setiap relung hatiku yang paling terdalam
KasihMu selalu ada
Di segenap jiwa dan ragaku

Sungguh, kasihMu begitu besar
Pada diri hambaMu
Yang begitu hina ini


Damai

Damai di hatiku
Damai di jiwaku
Damai di ragaku
Damai di pikiranku

Semua ini karena kasih Tuhan
Pada diriku sebagai umat-Nya
Di setiap langkah hidupku
Dan di setiap waktu yang kujalani

*) Kristina Rikawati Sri Wahyuni

Solopos

Aug 29, '09 9:49 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 23 Agustus 2009 , Hal.IV

Terukir indah zaman ‘45
Ketika serentak rakyat berteriak...
Merdeka...

Aku terlahir untuk sebuah generasi muda
Berkobar semangat penuh juang
Aku di antara puing-puing penindasan yang biadab
Berakhir semua derita dengan kata
Merdeka

Aku ada untuk Indonesia tercinta
Dengan jiwa pembangunan
Berjuang dari kemiskinan
Menentang keangkuhan korupsi
Menindas kaum-kaum teroris

Aku ada untuk mekaran bunga kemerdekaan
Yang akan kuharapkan atas asaku
Adalah sebuah pengakuan negeri orang
Atas prestasi bukan penghinaan
Aku di antara semangat itu
Generasi penerus dengan menjadikan yang terbaik
Atas dedikasi dan jiwa nasionalisme
Kita junjung kemerdekaan itu
Tetes darah pahlawan
Tak lagi perang namun dorongan pembangunan

Kemerdekaan adalah penghargaan tertinggi
Dari pahlawan untuk kita
Kemerdekaan ialah semangat generasi muda

Monita Rossy Pratiwi
SMA Negeri 6, Jl Mr Sartono No 30, Solo.

Solopos

Puisi-puisi Solopos (bagian 11)

Aug 17, '09 11:55 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 16 Agustus 2009 , Hal.VIII

Kangen

“Rindu itu seperti angin” katamu dalam bias kematian
Gadis ikal tersembunyi pada riak laut
Seribu mimpi mengibas
Tersimpan di kental tahi lalatnya

“Rindu itu seperti camar” katamu dalam bingkai
industri metropolis
Mencakar kota membiaskan jelaga
Seribu mimpi terjagal pada binar mata
Siapa yang memiliki keberanian untuk berimajinasi

“Rindu itu seperti labi-labi terpenjara dalam labirin”
katamu
Mata teduhmu berusaha menatap jauh
Terhalang mayat-mayat kapal karam
Batu-batu berliang
Berdering ketika angin tajam menikam
Sampah plastik yang menggunung
Peskapre, atap-atap rumbia bersama mengepung rasa

“Rindu tak pernah meleleh”
Pada bau ikan asin yang menyengat
Tersembunyi di rapat tubuh nelayan
Berbalut kesangsian diam
Meniti tak juga cairkan waktu


Cerita Pembunuh Waktu

“Rembulan bakal mati dimakan kelelawar” katamu
Aku terbahak mengekalkan malam
Gelap yang menghantam pikiranmu selama ini
Telah menjadikanmu jadi skeptis
Membatu seperti bukit
“Tetapi katak menertawakannya sehingga dimuntahkannya kembali rembulan itu”
Lanjutmu dalam kata yang dingin
Sedingin besi penjara yang menancapi kepala putihmu
Mata rabunmu terkapar menggeliat dalam ketidakberdayaan
Aku menatap lantai basah yang meski tak bermata
Ia menyimpan begitu banyak kepedihan hingga ia memuntahkannya
Memuntahkan rembulan yang tak pernah meronta
Meski ia dijagal dan disembelih
Pada upacara pembohongan

*) Didit Setyo Nugroho

Solopos

Aug 17, '09 11:45 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 16 Agustus 2009 , Hal.IV

Aku ini ada di mana?
Di sini langit merendah lalu menyapa
Dari awan kelabu itu membawa pilu
Kusaksikan terpaan debu

Mengapa aku ada di sana?
Tak tahu harus berbuat apa
Menyendiri pada suatu hari
Menikmati hari bagai mimpi

Mengapa aku harus dilahirkan?
Keluh kesah tak tertahan
Memperjuangkan hidup sarat uji
Namun tak pernah dimengerti

Mengapa pula harus sekian lama?
Sedang waktu berjalan sia-sia
Menghitung rentang masa lalu
Menghampiri jiwa nan kelabu

Mengapa lekat sunyi nan amat?
Menyaksikan diri yang tak berkutat
Semua yang mesti bakal terjadi
Tak kan mungkin dapat dipungkiri

Mengapa harus disayangkan?
Tak banyak yang dipikirkan
Mungkin tersungkur di ujung hidup
Padahal api perjuangan belum redup

Nina Fajrika Puspita
Kelas XC SMA Negeri 1 Sragen, Jl Perintis Kemerdekaan 16, Sragen 57214.

Solopos

Aug 10, '09 9:32 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 09 Agustus 2009 , Hal.VIII

Surat untuk WS Rendra

Ribuan lembar kertas tak cukup
Untuk menulis tentangmu
Namun engkau tetap bersahaja
Ku kenang engkau dengan cinta
Meskipun…hari ini…
Airmata menjelma menjadi anak sungai
Mengairi sawah-sawah kesadaran
Mengikis batu-batu keangkuhan
Aku di sini

Dengan gemetar kutuliskan ini
Mataku membentur dinding-dinding
Melekat gambar wajahmu di sini
Ada senyum manis
Ada tatapan tajam bagai elang
Membangkitkan kegairahan
Untuk terus beranjak, berjuang dan berkarya

Selamat jalan mas Willy ku
Selamat jalan guruku
Selamat jalan sahabatku
Selamat jalan pahlawanku
Engkau telah terbebas dari duka cita bumi
Engkau telah terbebas dari lapar dan dahaga

Selamat menikmati hidup baru
Selamat menikmati kedamaian baru
Tanpa batas ruang dan waktu
Kami mengasihimu
Engkau tiada namun tetap ada

Burung merak telah terbang
Burung merak mengepakkan sayap
Terbang menembus langit tanpa atap
Terbang meninggalkan bumi tanpa batas

Burung merak mengepakkan sayap
Sajak-sajak terus berteriak
Puisi-puisi terus bernyanyi

Burung merak mengepakkan sayap
Kilauan bulunya bagai pelangi
Pelangi senja yang telah menjadi masa kini

Wahai burung merak …
Melayang-layang bersama tentara surga
Menuju nirwana

*) Sulistya Wibawa
Alumni Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UNS

Solopos

Aug 10, '09 9:27 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 02 Agustus 2009 , Hal.VIII

Koalisi

“Selamat pagi! Rakyat”
Pemegang kedaulatan
Pemegang kekuatan
Pemegang suara dalam pemilu
Aku ingin kuat, ingin teman

Ya aku koalisi

“Selamat siang! Rakyat”
Pemegang kunci dalam demokrasi
Pemegang kotak suara negara
Aku ingin suara dalam pemilu

Ya aku koalisi

Telah tiba saat kulipat bendera
Kulihat warna yang sama
Aku ingin semutu, ingin semuka

Ya aku koalisi

Jangan salahkan!
“Selamat malam! Rakyat”
Ini perilaku
Ini perilaku yang biasa, yang kubisa
Ya aku koalisi
Yang bisa kubisakan. Yang biasa kubiasakan

“Aku ingin jadi presiden! Rakyat!”
Jangan kau gugat! Jangan kau cegat!


Nasihat

Kuat dan kuat
Jadi tidak sehat koalisi
Kuat dan tidak kuat
Jadi tidak sehat koalisi
Pertemuan jadi wadah penyemai pamrih

Siapa yang ingin suara?
Ya koalisi
Banyak teman banyak suara
Kurawa pasti menang suara
Pandawa pasti pemegang wibawa

Siapa yang ingin kuat?
Dekatlah dengan sang dalang
Bisikkanlah niatmu sebelum sebuah lakon berkumandang

Kemaslah kekuatan
Kemaslah kesehatan bernegara!

*) Agus Budi Wahyudi
Staf pengajar Pascasarjana Magister Kajian Bahasa Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Solopos

Aug 10, '09 9:24 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 09 Agustus 2009 , Hal.IV

Cobaan

Kadang hidup di dunia ini
menyenangkan
Tanpa adanya celaan, tapi kecupan
Sebuah kecupan sayang yang penuh
kehangatan
Keceriaan, keriangan,
kegembiraan
Datang membanjiri kehidupan
Aku ingin ini semua tak pernah hilang
Di kala cobaan datang
Kecupan kenangan tlah hilang
Ku tinggal seorang
Di mana kehangatan?
Ke mana keceriaan serta kebahagiaan?
Rasanya ku ingin menangis
Sampai air mataku habis
Ini semua tak pernah dirintis
Baiklah, ku harus berjuang
Tuk kembalikan hidup yang terang


Alam

Kadang kala ku berpikir
Apa sih makna hidup ini?
Lihat...!
Kaca alam yang kian berada
Sang surya menembus di tengah kegelapan
Sang gemuruh bernyanyi
Di kala awan menangis
Angin berhembus sejukkan hati
Air mengalir sebening kaca
Insan-insan hidup mondar-mandir
Mencari ilmu, mengabdi pada Sang Illahi
Tanpa terpikir
Inilah hidup...
Penuh makhluk-Nya, penuh dengan kuasa-Nya
Di alam raya...penuh dengan suka dan duka

Sholikah
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Solo.

Solopos

Aug 10, '09 9:16 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 02 Agustus 2009 , Hal.V

Pesan dari Surga

Mungkin engkau tak bisa...
menjadi presiden negara adidaya
atau sekjen perserikatan bangsa-bangsa
yang seolah punya kuasa
untuk mengubah dunia

Mungkin engkau juga bukan...
anggota pasukan perdamaian
atau seorang duta kemanusiaan
yang berharap dapat memperbaiki keadaan
atau sekadar membawa sedikit perubahan

Tetapi - mungkin hanya -
dengan sebuah senyuman
yang kauberikan dengan ikhlas
atau sebuah uluran tangan
yang tiada mengharap balas
engkau pun dapat mewarnai dunia
- atau setidaknya -
menyentuh hati manusia
yang kautemui di mana saja
untuk meneruskan sebuah pesan dari surga
yang telah kaubisikkan ke depannya

Agus Dwi Setyawan
Alumni SMK Kristen 1 Solo tahun 2008/2009.

(Rafi, Fajar – Wasis)

Solopos

Jul 27, '09 9:36 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 26 Juli 2009 , Hal.IV

Semu

Mengucur darah
Mengucur peluh
Aku hanyalah semu
Tak rindu ke dalam kalbu

Mengucur darah
Mengucur peluh
Aku benar-benar semu
Tak bisa merindu
Tak rupa berpadu

Mengucur darah
Mengucur peluh
Aku, semu!
Aku, mati!
Dan tak bisa hidup lagi!


Sembahyang

Kata merangkai jiwa
Sejuta rasa bertiada tara
Mengungguk penuh iba
Pada-Nya sang Pencipta
Niat baikku
Niat tulusku
Merangkai terang
Mencipta petang
Sembahyang...

Maria Monasias Nataliani,
SMAN 3 Solo Kelas X-6.
Solopos

Jul 19, '09 3:23 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 19 Juli 2009 , Hal.VIII

Warung Kejujuran

Panggung itu bak warung pinggiran
Walau kumuh namun lezat bukan kepalang
Tak sedikit yang tergoda
Mencicipi nikmatnya rasa

Pengunjung datang bergantian
Tak jarang cuma gratisan
Atau malah karena tawaran
Dari bos yang berkantong tebal

Korupsi hidangan wajib tiap hari
Manipulasi santapan khas warung ini
Sayang justru tak sedia makanan inti
Menu kejujuran yang sedang laris dicari


Menikmati Kejahatan

Ada nyonya kaya raya
Sibuk memulas wajahnya
Agar manis di depan jaksa
Mungkin coba mencari celah
Bagi kasusnya yang bikin muntah

Menurutnya di bui biasa saja
Asal jangan mati gaya
Anggap saja sedang di vila
Kalau perlu bikin salon pribadi
Lengkap dengan creambath dan spa

*) Santi Pratiwi Tri Utami
(Alumnus PBI Universitas Sebelas Maret Surakarta)

Solopos

Jul 19, '09 3:19 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 19 Juli 2009 , Hal.IV

Jauh


Kenangan itu kini menjauh
Semakin jauh tuk diraih
Harapan itu kini tlah menguap
Terbang bebas bagai asap
Begitu juga dengan kau...
Bayanganmu tlah jauh dari hatiku
Harapan dan asaku tlah hilang
Perasaan yang tertata kini mulai goyah
Sikapmu tlah matikan hatiku
Dustamu tlah kubur percayaku
Dan pengkhianatan ini
Tlah merobek rasa yang kita jaga...
2009-06-03; 16:30


Selintas Kenangan

Kenangan itu begitu saja datang membayang
Tertawa, terbang ke awang-awang
Namun, sedetik kemudian aku menangis pilu
Mengenang semua hanyalah semu
Melihat tawamu adalah bahagiaku
Menyentuh tanganmu mengobati rinduku
Berpeluk denganmu mengobati resahku
Mencium dirimu kenangan terindah buatku
Dan kini ku hanya bisa menunduk
Menatap dirimu jauh di sana
Menatap kenangan yang terkubur
Dalam pusaramu...
Maafkan aku yang tak bisa menemani
saat-saat terakhirmu
Maafkan aku yang belum bisa seperti yang kau mau
Namun...
Namamu kan slalu terukir dalam hatiku
Selalu...
Special for my grandma, semoga tenang di sana.
I love you... you’ll always stay in my heart
Makamhaji, 9 Juni 2009 -

Alifia Fathur Rizkiyah
Solopos

Jul 12, '09 6:27 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 12 Juli 2009 , Hal.VIII

Sejarah Jarahan

Masihkah kau di sini?
Bergerak memandang kota
Yang dulu hanya berhias becak
Kini berganti dengan taksi dan asap

Masihkah kau tinggikan bahumu?
Melihat budaya yang makin tergerus
Berpindah tangan pada pengelola hiburan
Ataukah kau bahkan buta?

Adakah kau mencibir?
Membiarkan sejarah menjadi jarahan
Membiarkan budaya menjadi tak berdaya

Masihkah ada rasa rindu darimu?
Menyambut menara-menara meninggi,
Menyahut tanah terpatri semen?

Kau dan aku masih sama seperti dulu
Menggayung rupiah lebih enak
Dari sekadar,
Melihat budaya terpelihara


Terjerat Untung

Bualan calon petinggi
Meraup suara dalam sengsara
Terjerat janji, terpasung mimpi
Lantaran kerap merugi

Desah angin menyambut hujan
Lahan basahlah yang paling dicari
Menghindari kering pada kantong rekening

Meraup untung dalam peruntungan:
Pemilu -

*) Johan Bhimo Sukoco
Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Visi FISIP UNS. Puisi dan cerpennya dimuat dalam kumpulan Cerpen dan puisi (KCP) berjudul Reinterpretasi Cerita Rakyat terbitan lembaga pers yang sama.
Solopos

Jul 12, '09 6:23 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 05 Juli 2009 , Hal.VIII

Cinta Solo-Jogja
.
Sepasang hati berpadu rasa
Memberikan suasana ceria di sudut kota
Menjadikan mata iri merasa
Seakan mencela tanpa tutur kata

Lagu indah dengan sajak kesedihan
Membuburkan lantunan hati
Menyanyikan kisah sepasang merpati
Kereta senja pun menjadi saksi
Menjadi pertama dalam lagu kenangan
Memaparkan perjalanan cinta Solo-Jogja
Bahagia dan kecewa jauh tertempuh
Berakhir nan pupus teraniaya

Khayalan abadi yang selalu meragu
Seakan bertanya dan tak percaya
Akankah kekal cinta itu
Ataukah luntur terseret guntur

Guru Kebaikan

Sebuah perjalanan yang jauh dan melelahkan
Ini cerita sesaat yang menjadikan guru kebaikan
Liku-liku yang membingungkan
Mulai dari pagi, hingga beranjak usai
Tanda kekalahan memberikan aba peringatan
Seolah mengingatkan langkah ini berhenti
Memang lelah raga ini
Ketika aku mencoba berdiri
Seolah waktu tak memihakku
Saat malam menggantikan senja
Bisikan kecil mendekati telinga
Suara alam beserta angin malam
Mulai berbicara, mulai bercerita
Kau takkan menang, kau takkan bisa
Turuti nafsu dan amarahmu
Lawan...! lawan dan tahan
Apa yang kau inginkan
Serta semua yang kau rasakan

*) Rahma Widyastuti
Manggeh RT 1/RW V, Tegalgede, Karanganyar, Karanganyar 57714.

Solopos

Jul 12, '09 6:06 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 12 Juli 2009 , Hal.IV

Cinta

Cinta...
Izinkan aku terbang jauh darimu,
biarkan jiwaku mati tanpamu.
Sayap ini telah mulai rapuh, lelah
dan lemah. Aku putus asa.
Cinta...
Jauhkan aku darimu, biarkan kegelapan menjagaiku dari pesonamu yang menyiksa. Aku ingin melupakan keinginan memilikimu. Aku tak pernah bahagia memilikimu
di hatiku.
Cinta...
Letakkan aku di dalam kesunyian, agar
jasad ini membusuk dan lenyap oleh waktu. Dan kenangan akan menguburku di bawah makam
bernisankan mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi nyata.
Cinta...
Larutkan rasaku ini di dalam aliran air yang jernih itu, sehingga tubuhku
menyatu dengannya, kemudian hilang
entah ke mana.
Aku hanya ingin melarikan diri.
Cinta...
Cobalah kau ubah hidupku, apakah benar yang orang katakan tentangmu ”bahwa engkau adalah segalanya”.
”Bahwa kau adalah titik terdalam dari
kebahagiaan.” Cobalah perbaiki hatiku yang hancur.
Cinta...
Ajari aku mengerti artimu
sesungguhnya, jikalau terlalu sulit bagimu
mengartikan diriku. Tolong untuk
kali ini saja.
Cinta...
Cinta...
Cinta...
Aku tetap tak bisa mengerti tentang kamu
Tentang maknamu, keinginanmu, apapun.

Angel Rose
SMA Kristen 1 Solo.

Solopos

Jun 28, '09 11:48 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 28 Juni 2009 , Hal.IV


Tuhan

Kini kusadar
Ku jauh dengan-Mu
Sujudku tak sekhusyuk dulu
Butiran nafasku tercecer
Tangisku menggema
Di sudut dusta

Tuhan,
Masihkah ada
Sedikit cahaya terang untukku
Ku tak kuasa berlari
Yang tampak olehku hanya gelap

Dalam air mataku
Ada satu asa yang kunanti
Tuntunku kembali ke jalan-Mu lagi
Agar nanti
Kudapati serpihan senyum lagi
Yang dulu hilang
Karna kebodohanku
Karna kesombonganku
Dan karna kekhilafanku
Terimalah sujudku ini


Jenuh

Kurasa hati ini telah lapuk
Kurasa raga ini telah mati
Entahlah,
Bahkan tak tersisa
Sedikit pun rasa

Ruang hati ini berserakan
Tak menentu
Jantung pun berdetak
Tak sekencang dulu lagi
Maksud hati tak ingin menyakiti
Tapi apa daya
Ku tak kuasa lagi

Maafkan,
Bila ku tak sanggup
Berdiri di sampingmu lagi
Maafkan,
Bila raga ini tak bisa
Menjamahmu lagi
Mungkin hati ini telah mati
Karna kau telah lama pergi
Kutulis senandung ini
Sebagai dedikasiku tertinggi

Latifah
XI IPA 2, SMA Negeri 7,
Jl Mr Muh Yamin 79, Solo.

Solopos

Jun 21, '09 1:01 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 21 Juni 2009 , Hal.VIII


Ambang Cinta

Miskinnya kata-kataku bukan suatu arti
Aku tidak mampu berucap kepadamu
Adalah sebuah pilihan untuk tetap membisu
Meski jalan ini tidak akan terbaca
Merah, jingga, unggu serupa pelangi
Simbol pesona yang selalu kau tawarkan
Sejenak logika bertanya
Adakah celah akan terbuka?
Sedangkan dinding ini berpagar baja
Di awan burung mulai menari-nari
Menyanyikan lagu-lagunya merdu merayu
Entah mereka tertawa
Entah sedang berempati
Menawarkan satu jawaban

Verboden

Beranjak dari ketidakpastian
Langkah kaki ini sesungguhnya gontai
Bisikan sederet kata sarat petuah
Tak henti mengiang-ngiang di telinga
Membujuk
Meradang
Menahan
Selangkah tersendat
Lagi, lagi dan lagi
Debu jalanan mulai mengotori wajah
Putting beliung pun menghentikan seluruh jejak
Ah, gerimis senja kembali datang
Tetapi hari ini tidak sama dengan kemarin
Isteriku, masuklah ke rumah
Aku tidak pulang kali ini
Kita akan bercerita esok
Maaf, aku kirim ”SMS” dari balik jeruji,
rutan di perbatasan kota kita

*) Atik Mulyani S.Sos
Mutihan RT 04/RW XI, Sondakan, Laweyan, Solo 57147.

Solopos

Jun 21, '09 12:58 PM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 21 Juni 2009 , Hal.IV


Broken Heart

Bercucuran air mataku
Ketika ia datang dengan kabar itu
Kacaukan suasana hatiku
Hadirkan nuansa sendu
Kala persahabatan dan cinta diadu
Belum juga kuungkap semua
Telanjur sudah kau memilihnya
Pupus sudah segunung harapanku
Runtuhlah benteng terakhir semangatku
Remuk redam kini nuraniku
Saat tatapan egois itu menyapaku
Mungkin hanya di ruang rindu
Kudapat menemuimu
Mengungkap rasa di relung hatiku
Tapi di sini aku...
Rasakan jemariku tak kuasa menggapaimu


Ku Menanti
Sunyi...sepi...
Tanpa hadirmu wahai kekasih
Yang dulu hiasi hari
Dengan cinta, sayang dan kasih
Motivator raga ini

Sunyi...sepi...
Berlalu bersama kepergianmu
Tinggalkan diri di sini
Dalam jejak bimbang dan ragu
Yang kau tanam dalam hati

Sunyi...sepi...
Tanpa canda dan tawa
Bujuk rayu dalam untai kata
Seperti saat hadirmu di sini
Yang buatku jadi berarti
Dalam tiap langkahku ini
Hanya dirimu yang masih kunanti

*) Nissya Arienda
SMP Negeri 9 Solo, Jl Sekar Jagad 1, Laweyan, Solo.

Solopos

Jun 14, '09 10:46 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 14 Juni 2009 , Hal.IV


Bosan

Kukatakan ini
meski aku sedang tak ingin bicara
apalagi mengumbar makna
bah, aku tahu itu cuma bikin dosa

Terpaksa kukatakan juga
meski aku enggan bercakap
biarpun hanya seucap
ini rahasia kita

Tapi akan tetap kukatakan
meski sebenarnya aku ingin diam
cuma satu ingin kubilang
aku sudah bosan


Dirimu

Ada kebencianku padamu
kekal di sini
ada juga rinduku
di hatiku

Ada senyummu
cibiranmu
juga hinaanmu
semua kuterima

Biarlah,
toh, tak ada yang hilang dariku
cukuplah,
itu bukti perhatianmu padaku


Sajak Kita

Sajak kita adalah tentang mimpi
Cerita-cerita semalam
Hadir dalam sebuah tidur panjang
Hanya sekejap
Lalu lenyap
Bersama jatuhnya embun ke bumi

Sajak kita adalah janji
Bukan hitam di atas putih
Tapi ada dalam hati

Roni Tri Juwarko,
SMP Negeri 3 Wonogiri, Jl Ki Mangunsarkoro, Wonogiri.

Solopos

Jun 14, '09 10:38 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 14 Juni 2009 , Hal.VIII

Kupu-kupu di Kegelapan Malam

Malam hening
pikiran berputar bagai baling-baling
kupu-kupu beterbangan cari mangsa
sayapnya yang indah bak memanggilnya
namun ia tak mencari bunga
yang dicari kumbang perkasa
belang warna hidungnya
tuk diperas tenaganya

Malam kelam
sunyi semakin dalam
kota kumuh itu pun terasa lumpuh
kupu-kupu penuh peluh
terbang ke sana ke mari tak ada yang peduli
kumbang perkasa pun tak muncul lagi
tak putus asa dalam mencari mangsa
tuk menyambung hidup di alam fana
tak peduli muda atau tua renta
yang penting bisa dimangsa

Rintik hujan membasahi bumi
seolah tak mau kompromi
alam fana semakin hampa
kupu-kupu pun akhirnya puasa
bukan karena perintah agama
tapi memang tak ada yang dimangsa
buah hati cinta sesaatnya
menanti di rumah bersama neneknya
dalam kegelapan malam
tak ada sesuap makan yang diharapkan
Solo, 2 Maret 2009

Haus Kedamaian

Coba lihat Kutub Utara!
Es yang ada di sana tak mampu bicara
Itu salah siapa?
Apa karena kita tak mengajarinya?
Bukan...!
Yang salah segelintir oknum gila
Mereka kejam dengan senjata ampuhnya
Bumi kita digilas dan ditindas dengan culas
Namun ia sabar tak mau membalas
Bukan karena takut
Tapi alam pikirannya sedang kalut
Tetes-tetes air mata membasahi pipinya
Jatuh menyapu daratan yang ada
Terdengar alunan lagu sendu penuh pilu
Menenggelamkan seribu pulau
Udara panas semakin ganas
Menyerang dan menerjang bebas
Membabi buta hingga nyasar ke mana-mana
Kutub Utara diserangnya juga
Sakit terasa dalam tak tertahankan
Membelenggu jiwa yang haus kedamaian
Bumi kita menangis tersedu-sedu
Jantung dan hatinya tersayat sembilu
Solo, 3 Maret 2009

*) Drs Sunarso MM
Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo.

Solopos

Jun 7, '09 9:32 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 07 Juni 2009 , Hal.VIII

Mengiring Firasat Khawatir

Desiran angin membelai
mengajak tuk berkulai
tuk mengiring serumpun firasat khawatir
menjulang pergi
dengan tarian gemulai kupu-kupu

Ruang cahaya pun menjelang
serupa penjaga
balut waswas, tempias gelisah
untuk bergumul pudar
merapikan rasa pada asa
memberi salam tanda permulaan
Dalam kedap gelisah, 2009

Engkau Siapa?

Menawan angan dalam peraduan
Terlalu indah mengantar senja
Embusan angin gemulai hadir
Membisikkan kata
tiada berarti
Hanya setitah belaka
luapan emosi

Saat kupijakkan hatiku padamu
Kutemukan apa
Apapun ia, sang pujangga cinta
Menarik diri dari duri

Selendang biru ungkapkan hati
panjang
membentang
sarat akan makna

Menyibak tabir halus, engkau siapa?

*) Manggar Astiti
Alumnus LPJS angkatan 2.

Solopos

May 31, '09 11:13 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 31 Mei 2009 , Hal.IV


Tak Terlupakan

Awal jumpa tiada kata terucap
Tanpa sapa hanya senyum
Hari berganti
Canda tawa temani kita
Bulan bahkan tahun
Terlewati sudah
Jemari menggenggam
Menghangatkan kebersamaan
Di antara kawan
Tak sadar di ambang akhir
Perlahan terlepas jemari
Mencari arah tujuan tiba
‘tuk asa dan cita
Suasana nan indah
Bersama kawan
Tak terlupa


Persahabatan

Aku tertawa bercanda dengan sahabat
Menangis pun bersama
Hadapi ujian, cobaan,
rintangan bersama pula
Tak ada ujung
Tak ada titik
Tak akan putus
Tak akan terburai
Tak lekang waktu
Semua kan tercurah
dijaga dan tersimpan rapat
Sgala kegalauan hati yang bimbang
Sulit untuk menjadikan utuh dan erat
Jagalah slalu persahabatan

Petra Lugas Nuswantoro
SMA Batik 1 Solo.

http://www.solopos.co.id/indexminggu3.asp?id=273593


May 24, '09 8:09 AM
untuk semuanya
Edisi : Minggu, 24 Mei 2009 , Hal.VIII

Kisah Air Mata dan Mata Air

ini hanya perulangan kisah
ada dan ketiadaan
menjalin
membentuk ikatan kuat


dari hidup
yang selalu memberi kejut
getar di dada rusuh
meluruhkan sabar
menggenapkan lingkaran usia

segala yang terang
melarungkan kelahiran
kisah lelaki menjalin
raga
ragu yang dikemas perempuan

di tempat baru itu
kau membangun kampung rahasia
tersembunyi
agar aku tak dapat melihat

rangka ini tak sekuat badai
namun cukup kokoh untuk dilalui

di sinilah sumber mata air
hati yang tak pernah kisut
walau lingkaran usia
terus menggulung

SudutBumi, 2008

Lagu Cermin

Lama aku tak mengunjungi kalian
Sejarah yang ditinggalkan pemilik pertiwi
Kebungkaman menjadikan anak negeri sesat
Labirin menghadang
memunculkan nama pengerat
Jejak itu lama tak aku kunjungi
Kelumpuhan kota
yang semakin tertindas tanpa nurani
Akal pun tak jadi pilihan guna tetapkan hati
Masihkan manusia berbudi
Memikirkan jalan pulang untuk kembali
Jika jejak sulit terlacak

ke arah mana aku harus bercermin?

*) Dian Hartati
Lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Menyukai jalan-jalan dan menenggelamkan diri pada perjalanan kata-kata. Tinggal di Bojong Kacor No 16 RT 02/RW 12, Bandung 40191.
http://www.solopos.co.id/indexminggu3.asp?id=272730