Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts

Tuesday, February 10, 2015

Matikan TV-mu!



Image from http://libertyfreemanadventures.blogspot.com/2012/06/kill-your-televisionis-it-as-easy-as-it.html
Emang bener ya, tv sekarang itu kebanyakan acara sampah. Acara hiburan banyak tidak mendidiknya dengan tingkah polah yang tak layak presenter/host. Acara berita pun sering kali menjadi corong kepentingan tertentu. Dan berjalan kentara.

Duh!

Tuesday, May 14, 2013

Keberanian dan "Kegilaan" (ide) untuk Meraih Apa yang Kau Inginkan

Untuk mencapai apa yang kamu inginkan, kamu butuh keberanian dan "kegilaan" (ide). Cobalah dengan sedikit kenekatan dan "kenarsisan". Punyai ide gilamu untuk mencapainya. Meskipun ada beberapa atau banyak orang yang mencibir usahamu itu. Kau jangan lekas menyerah. Segera berbenah dan mengambil hikmah. Niscaya secara tidak sadar kau akan menjumpai apa yang kau inginkan.

Setidaknya kau berusahalah dulu!

Minomartani, Yogyakarta, 15 Mei 2013

*) Ekohm Abiyasa

Wednesday, March 20, 2013

Kesunyian Abadi

Kesunyian abadi saya kira adalah di akhirat. Ketika kita meratapi, meraung dan merasakan kesakitan dalam penyiksaan di neraka. Tak ada orang, seorangpun menemani kita. Kita sendirian! Orang-orang betapa menerima segala sebab dan akibat ketika hidup. Amalan apa yang sudah kuperbuat. Selama ini aku hanya bersenda gurau belaka. Banyak hal terlewatkan olehku. Yang jelas banyak sekali perintah dan larangan masih kulanggar. Apakah ini sudah takdir?

Ada hakikat dan makna. Setiap waktu yang berlalu adalah hikmah-hikmah yang terpetik untuk direnungkan dan diperbaiki. Oh, kiranya aku perlu mengaji lebih banyak lagi. Pada jalur hijau yang dahulu kupelajari. Kehidupan terus berputar. Selalu saja kehidupan sering membawaku pada lumpur.

Diluar sana ada lebih banyak lagi orang bermandi lumpur lebih asyik. Apakah aku seperti mereka yang asyik dengan kehidupan sementara ini. "Kamu harus teliti dan hati-hati. Jangan sampai kau asyik dalam kubangan lumpur itu!" Suara hati selalu mengingatkanku.

Ingatku, ketika bagaimana Nabi Adam diciptakan. Bukankah Nabi Adam diciptakan dengan kesendirian. Dan akhirnya Nabi Adam juga merasa kesepian dalam taman surga-Nya. Hingga Allah pun berkenan menciptakan pendamping untuk menemani Nabi Adam. Diciptakannya Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam.

Semua akan berakhir kepada yang mula. Dan kesepian dalam neraka itu sungguh abadi. Itulah, kesunyian ini abadi.

Ada dua pilihan kesunyian, yang manis dan pahit. Manis ketika kita berhasil menamatkan ujian di dunia ini dan masuk surga-Nya. Pahit ketika kita berjalan pada jalur neraka dan masuk ke dalamnya. Apalagi sampai kekal di dalamnya. Untuk selama-lamanya.

"Kamu harus teliti dan hati-hati. Jangan sampai kau asyik dalam kubangan lumpur itu!" Suara hati itu selalu mengingatkanku.

Gandekan-Solo, 21 Maret 2013

Wednesday, November 14, 2012

Step by Step

Kehidupan selalu bergerak dan ketika level kita sudah naik step by step, lalu kita pastinya akan mencari referensi/ilmu kepada orang atau apalah yang levelnya sama dengan kita atau lebih.

Semoga bermanfaat dan berkah apa-apa yang kita peroleh.
Jakal KM 14 Jogja, 14 Nopember 2012

Wednesday, November 7, 2012

Hal Baru adalah Ilmu

Setiap hal yang masuk kepadaku, sekecil apapun dan itu menarik perhatianku, itu menjadi suatu hal yang besar. Karena ketidaktahuanku atau minimnya pengetahuanku akan hal tersebut menambah "ilmu" dalam diri.

Yang terpenting adalah perenungan masih berlanjut sampai tutup usia. Perjalanan masih panjang.

Gelap adalah sisi lain dari diri. Mengupas kisi-kisi hidup yang redup. Menuju gelap adalah ilusi. Menjadi nyata ketika menulis dan mengapresiasinya.

Jakal KM 14 Jogja, 08 November 2012

*) Ekohm Abiyasa

Wednesday, October 24, 2012

Peran Media Sangat Besar

Kondisi di Solo sama Jakarta sangatlah berbeda. Kalo di Solo pak Jokowi turun ke lapangan ga terlalu heboh di pemberitaan media massa. Tapi kalo di Jakarta, setiap gerak-gerik selalu saja ada wartawan yang menguntitnya demi pemberitaan. Dan itu menjadi perbincangan hangat sebagian besar orang. Mendapat tanggapan beragam, mulai dari masyarakat biasa sampai politisi DPR.

Muncul tanggapan, pak Jokowi jangan sampai terlena dengan pencitraan. Namun saya yakin itu bukanlah tipe pak Jokowi. Beliau sangat polos, lugas dan tegas. Hanya medialah yang selalu menggembar-gemborkan langkah-langkah pak Jokowi sebagai gubernur Jakarta.

Ingat media yang bikin populer dan media pula yang bisa bikin jatuh.

Mari pak lanjutkan gebrakannya demi perbaikan Jakarta. Yang sirik dan komen negatif saya kira mereka-mereka yang tidak suka dengan gaya dan ketegasan pak Jokowi.

Semangat malam..

Friday, October 19, 2012

#1

Jangan pernah merasa selalu berada di zona nyaman karena setiap saat bisa pergi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Ia pergi secara tiba-tiba dan ketika kita ga siap menerimanya, kita merasa down..

Fight!

*) Zday Project

Saturday, September 29, 2012

Quote Hari Ini: Pengalaman dan Nasihat-nasihat

Pengalaman dan nasihat-nasihat pada masa sebelum kita disini(tempat baru) sebaiknya kau ingat-ingat dan pegang erat. Karena itu akan membantumu beradaptasi dengan lingkungan baru/asing.

Mojosongo, Senin  21 Desember 2009

*) Eko HM

Monday, September 17, 2012

Kosong adalah Isi, Hidup yang Sunyi

Mungkin aku benar-benar butuh psikolog spesial yang pintar menyembunyikan permasalahanku atau keluh kesahku. Aku tidak suka terlalu umbar aib diri. Siapa pula yang suka? Gila kali? Rasanya aku bisa menangkap perihal-perihal "depan" atau kejadian sebelum terjadi beberapa saat. Mungkin itu hanya firasatku saja. Benar firasat saja. Ah gila aku menyombongkan diri. Seringkali memang telingaku berdenging sendiri. Kutangkap sesuara yang mendekat. Namun pula ada yang luput dari radar telingaku ini. Suara-suara besar yang orang tahu. Hahah.. Hanya sebagian kecil saja aku tahu.

Ada kalimat "kosong adalah isi, isi adalah kosong" coba saja engkau praktekkan. Dalam kamar sunyimu, hening tengah malam atau pagi buta benar. Engka tangkap suara sedapatnya. Kemudian rinci lagi suara-suara itu. Suara apakah? Gemericik air kolam/kran, suara kucing mengeong, suara kaki melangkah, suara tikus berdecit, suara setan yang tertawa atau suara turunnya malaikat mencatat aktivitas yang kau lakukan.

Semakin lama tajam juga pendengaranmu.

Mungkin aku benar-benar ingin mengakhiri hidup di alam kasat ini. Sudah pas rasanya aku ingin bertemu dengan Sang Penciptaku. Namun ganjalan masih besar di kepala dan mataku. Terbayang api neraka menyala-nyala begitu hebat. Membakarku!

Seberapa besar amal kebaikanku sampe aku harus mengakhirinya? *jawab sendiri*

Lantas pantaskah orang saling memicingkan mata, atau hanya mata hati mereka saja yang buta?

Hatikupun bisa buta, mengapa mereka tidak?!

Mungkin segalanya memang indah pada waktunya. Semoga kelak, benar-benar aku jumpai Sang Arsitek tubuh manusia dan alam jagat (maya) ini tanpa berlama-lama bercengkerama dengan api neraka. Whatsapp!!

Aionet Jakal KM 14 Jogja, Selasa dini hari 18 September 2012

Friday, August 10, 2012

(Makna hari ini) Send(h)al

Sendal, senengane neng ndalan. Ateges sukanya dijalan. Sandal? Ya sandal yang dalam bahasa Jawa biasa disebut sendal. Memiliki makna tersendiri. Ketika kabut pagi-pagi tadi aku 'onceki' sendiri setelah ada pertanyaan dari salah seorang temanku, Aji. Sendal itu adalah 'lemek' ato alas buat kaki (ya iyalah masa buat kepala). Yang memiliki makna kurang lebih kita harus punya alas/pondasi yang kuat dalam diri/hati kita. Semakin kuat pondasi itu, maka semakin kuatlah kita berpegang teguh. Tidak goyah terhadap godaan-godaan luar dan dalam. Insya Allah. Sama halnya sendal, semakin kuat/tebal alas kaki itu, maka semakin kuat pula buat melindungi kaki.

Setiap benda, masalah, wujud ato apalah pasti memiliki makna/rahasia/hikmah tersendiri. Sungguh luar biasa (biasa diluar soalnya).

Next cari makna dalam gerakan sholat? Apa coba? Siapa yang tahu beri tahu aku?

* Harusnya ditulis Sendhal. Dalam pengucapan Jawa.

Jatipuro, Karanganyar 12 Juni 2009
Ketika jejangkrik dan hewan malam kelam disekelilingku.

Chapter 16: Mencatat Huruf

Membendung air mata yang sedang jatuh ini, tidak mudah bagiku. Karena terlanjur mengelupas rasa sakit ini. Kau sungguh kejam dan tega. Oh mengapa engkau tega melakukan ini? Sebab pula telah patah temali yang terikat. Telah aus oleh waktu. Mungkin?

Karena terlalu banyak juga beban di kepala. Membujur sampah berserakan. Tak ada tempat penampungan atau pembuangan yang layak. Lama-lama membusuk juga kan? Hehe.. Ada banyak kisah yang harus diselesaikan di meja maya ini. Di ruang maya yang luas amat ini. Aku hanya membutuhkan sikap konsisten dalam melarikkan huruf perhuruf. Lalu kau dapat membacanya dengan mimik sedih atau tertawa. Sebab dunia ini begitu beku untuk digenggam sendirian.

Ini bukan pula akhir dari sebuah kisah. Kukira ini adalah sebuah permulaan. Permulaan tentang rindu pada seseorang atau semacamnya. Luka pedih yang ditabur garam, tawa riang karena mendapat tautan hati pada seorang gadis yang diinginkan. Atau mungkin yang lain. Terserah menilai saja. Sebab duniaku dengan duniamu tentu berbeda bukan? Berbagi resah atau rindu sangat menyenangkan kukira. Okelah mari kita tulis saja kenangan yang ada. Setiap peristiwa adalah jejak manis yang baik untuk diabadikan. Di ruang maya ini, manalagi?

Next jemari ini harus kebal kram untuk memulai lagi. 

Jakal km 14 Jogja, 01 April 2012
*) Ekohm Abiyasa

Chapter 15: Rasa yang Sama

Sepertinya kamu memperhatikan diriku lewat tulisan-tulisan dan pertanyaan-pertanyaan. Aku bisa merasakan kalau kamu juga mempunyai rasa yang sama. Perasaan yang satu denganku. Aku pun demikian (kalau memang itu perasaan yang aku maksudkan). Aku senang sekali.Semoga kau selalu suka senja dan kesunyian.

Jakal KM 14 Jogja, 22 Maret 2012

(Catatan Hari Ini) Jenuh

Sudah tiga hari ini diriku terjebak dalam kekosongan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kesana kemari tak tentu arah. Dan tak punya tujuan jelas.

Duh hari!, kau cepatlah berlalu. Diri seperti terkubur hidup-hidup dalam mesin waktu. Aku menjumpai segala hal.

Ingin kesana tapi kaki seperti susah sekali buat melangkah ingin kesana, jarum hati menusuk-nusuk. Seperti permainan saja. Tak kuasa, lemah daya. Hanya ada secelah harapan. Yang ada, menunggu waktu.

Rasanya campur aduk saja. Menikam-nikam. Muka harus tebal biar tahan. Hati juga demikian biar tahan cercaan, fitnah dan kejahatan mulut manusia. Seharusnya aku mengikuti 'rasa' bukan pikir saja. Sebab pikir ini menipuku. Tidak membaur bersama teman-teman seperjuangan. Duh maafkan kawan. Segalanya memang tidak seperti yang kupikirkan, tidak juga yang kau pikirkan.

Semua butuh proses. Proses memerlukan waktu dan sebagainya. Kunci utamanya adalah 'sabar'. Ya bersikap sabar terhadap segala hal. Baik dan buruk.

Aku ingin waktu ini segera meninggalkanku. Pergi dari sini pergi menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga. Lahaula wala quwwata illa billah..

Catatan pada tanggal 6 Oktober 2009
Karanganyar.

Chapter 14: Sampai Kapan ?

Pengen nulis apa ya? Ga bisa nulis bagus neh..

Bangun tidur, tidur lagi.. hahaha.. cocok sekali menggambarkan diriku saat ini. Siang ampe sore bingung mo ngapain? Kalo malam juga bingung ga ada tipi. Kalo ada tipi bisa nonton ampe jam 2-an deh (ga belek tuh mata).

Hari-hari kulalui tanpa kegiatan positif. Pikiran sebenarnya udah ga ambil pusing. Hanya sedikit/kadang-kadang saja aku terpengaruh akan pikiran. 'Roso'ku ini belum menyala sepenuhnya. Heuh.. pengen ke tempat sunyi itu.. Sendang berpohon rindang ditengah sawah dan dekat pemukiman/sekolah MI Muh. Entahlah sepertinya bergerak kesana getaran.

Sampai kapan awan gelap berlalu dari pikir dan hariku?

Karanganyar, 10 Agustus 20009

Ketika suasana tak lagi mendukungku, beribu pertanyaan siap-siap tercipta. Untukku? Beri aku ketenangan ya Tuhan.

(Catatan Spiritual) Beberapa Makna (Maksud) dari Gerakan-gerakan dalam Wirid #1

Beberapa makna (maksud) dari gerakan-gerakan itu.
  • Berdo'alah kepada Allah SWT. Selalu berdo'a kepada-Nya.
  • Pakai 'rasa hati', jangan pake pikir. Karena pikiran itu sering kali menipumu, sedang hati adalah lurus jalan. Tak pernah bohong.
  • Kurang menghormati orang lain. Sering-sering menghormati orang lain (sewajarnya). Misal orang yang emang pantas dihormati, guru, kepala sekolah, wanita yang lebih tua, bertuturlah yang baik pula.
  • Kurang beramal. Masih minim banget kamu dalam beramal.
Ketika dalam kesunyian aku bergerak mengikuti alur. Berbagai arah gerak terdapat menuju. Aku menyerupai seperti orang lain yang pernah kulihat atau dalam film laga televisi. Ada maknanya. Seperti telah tertulis.

Karanganyar, 24 Juli 2009

Chapter 13: Ketika Hidup Itu Sebuah Pilihan

Maka akan ku pilih sesuai naluri dan hati nuraniku. Sebab antara aku dan kau pastinya berbeda. Pun kau dengan dia atau mereka pastinya juga berbeda pula. Hanya dengan keyakinan sendiri kita memilihnya.

Sudah terlanjur 'nyemplung' kedalam telaga. Basah jadinya, sekalian saja aku mandi dan menyelam. Berkeliaran dan berpetualang dalam sunyi malam. Melanglang dunia. Menjelajahi alam mimpi dan batin. Lalu aku meraih sedikit kayuh buat kukebut. Menggapainya ternyata tak semudah yang kubayangkan. Namun sepertinya tinggal melangkah saja. Tanpa perlu ragu, tanpa keraguan. Yakinlah!

Tiap malam adalah pelajaran buat kita. Merenung dan bahkan meratap akan perbuatan selama ini, selama hari tadi. Sebab siang hari adalah duri-duri bertebaran lewat mulut-mulut nista. Dan malam banyak petuah bijak. Tinggal pilih dan pahami.

Karanganyar, 16 Juli 2009

Menikmati keadaan. Menuju sebuah kebaikan. Hidup bukannya apa-apa kalau kita tak melakukan apa-apa yang terbaik buat kehidupan kekal nanti. Melangkahlah dengan yakin dan pasti. Senyum kan kau raih. Insya Allah.

Chapter 12: Akhirnya Aku Merasakannya, dari Sebuah Dilema

Malam tak terlalu dingin. Dengan motor sebagai kendaraan, kami melewati perjalanan malam itu. Jalan yang panjang dan berkelok membuat aku agak capek. Bayangkan saja kami melewati bulak yang sunyi senyap. Hampir tiada manusia beraktifitas. Hanya hewan malam saja rupanya berkeliaran kesana kemari.
***

Sekitar jam delapan malam kami bergegas ke lapangan. Berangkat bersama-sama. Banyak teman rupanya. Aku sendiri tak kenal banyak. Yang datang dari berbagai daerah. Aku hanya kenal sebagian saja/beberapa saja.

Aku baru pertama kalinya ikut. Merasakan apa yang selama ini aku sedikit sekali pahami. Sedikit sekali aku tahu tentang 'itu'. Yah bertambah keyakinan saja aku akan hal itu. Aku merasakan sendiri. Aku melihat sendiri. Aku melakukannya sendiri. Aku bergerak seperti orang gila. Seperti film yang pernah ku/kau tonton di tv. Seperti jurusnya Jackie Chan yang pernah kulihat, Jurus Mabuk. Bergerak tiada aturan. Sekenanya saja melawan arus, mengikuti getaran. Ikuti saja dan rasakan. Berkelana. Kakiku capek juga lama-lama. Akhirnya aku jatuh juga. Bumi seakan berputar-putar dan kepalaku juga ikut berputar-putar. Hampir mau muntah. Heu. Istirahat sejenak.

Banyak pelajaran yang aku ambil selama perjalanan ini. Namun aku masih sangat sangat sangat kecil pengalaman dan ilmu. Ibarat mencelupkan jari ini ke dalam luasnya lautan/samudera. Sungguh banyak yang harus aku gali lebih dalam ini. Alam begitu luas. Tidak satupun tercipta kecuali ada makna/maksud/hikmah/gunanya.

Pelajaran pertama usai hampir tengah malam. Bergegas pulang. Kami sama-sama satu persaudaraan mulai saat itu (pikirku). Banyak teman itu menyenangkan.

Banyak pr yang harus kukerjakan. Banyak hikmah yang harus dipetik dari perjalanan hidup kita/ku. Allah telah menyediakan ini semua untuk umat manusia. Kita wajib bersyukur. Wajib.

***

Siang ini lumayan panas. Sepi lagi. Sedari pagi belum sarapan nasi. Heu. Tetep semangat jalani hari.

Jatipuro-Karanganyar 14 Juni 2009
Ketika malam-malam hening larut. Aku mendapat pelajaran pertama. Ya, nanti akan tahu. Suatu saat. Apa itu? Sebuah pengalaman yang tak kan terlupa. Mengubah hidupku. Pola pikir dan lain sebagainya. Salam.

Chapter 11: Beradu dengan Sunyi dan Keheningan Lewat Tengah Malam

Semakin lama aku mengucapkan, semakin detak jantung ini terasa. Aku dikelilingi berjuta gambar, wujud tak jelas atau siluet-siluet besar. Berpusing-pusing diri malam tadi. Harusnya aku cari tempat hening sunyi. Tidak dalam kamar kotak yang berjejal.

Rasanya aku pernah mengalaminya sewaktu aku masih kecil. Di rumah mbah putri dulu, Setu. Semakin yakin semakin berputar-putar ombak pikiran ini. Kemana aku ikuti saja. Tidak aku tolak. Bukannya apa-apa. Ada saat jiwa ini mau memberontak keluar selesai. Tapi aku tahan saja.

Aku tidak lama-lama duduk bersila seperti tadi malam. Rasanya baru pertama kalinya dan bukan tempat yang cocok. Besok malam aku coba lagi. Sampai aku merasakan energi. Ya energi besar itu. Energi yang diberikan oleh pak Sofyan. Ya energi itu.

Allahu akbar! Sungguh luas laut hati dan jiwa. Aku belum dapat menyimpulkan kejadian-kejadian secara tepat. Aku masih terlalu awal untuk mempelajarinya. Kawan, bantu aku melihat.

Karanganyar, 09 Juni 2009

Ketika suara diesel buat acara perpisahan di MAN 2008/2009 tadi malam menyeruak. Membakar telingaku. Aku tak bisa konsentrasi 100%. Besok malam saya coba lagi. Di tempah jauh sana, Jatipuro. Insya Allah.

Chapter 10: Tentang Hujan, Orang Buta dan Dunia yang Membutakan

Kulihat orang itu diseberang jalan. Sembari menunggu seseorang/sesuatu sepertinya. Entahlah, hujan kala itu begitu menderas secara tiba-tiba.

Ternyata seseorang itu tak dapat melihat matanya alias tuna netra. Seseorang itu menunggu seseorang yang mungkin temannya. Lalu menyeberanglah mereka. Seseorang itu memukul-mukulkan tongkat kecilnya kedepan. Bagai mata bantu buat seseorang itu.
***

Sayup-sayup suara adzan Isya terdengar kala hujan itu. Aku lelah menanti riputnya matahari. Diam hening. Temanku baru saja masuk kedalam toko 'Stream' buat beli sesuatu. Entahlah.

Hujan mereda menelanku dalam larut. Akupun berjalan. Menuju keabadian. Dunia ini hanya sementara. Kurasakan saja.

Karanganyar, 7 Juni 2009

Ketika hujan gelap itu mengguyur tiba-tiba. Aku terjebak dalam dua dunia.

Chapter 8: Sepi Malam Ini dan Nenekku Sayang

Ini malam Sabtu jam 19:25. Rasanya sedari pagi tadi suasana sepi banget. Kepala sedikit berpusing. Entah karena apa. Entah. Senja beranjak pun masih sedikit pening.

Ku lihat dijalan Lawu ini seorang nenek berjalan sendiri. Menggendong entah itu bekal entah itu makanan. Duh aku miris melihatnya. Bukan apa-apa, aku hanya teringat seorang nenek yang paling baik kepadaku. Sungguh ku bisa saja menitikkan air mata ini jauh kedasar kerak bumi. Rasanya ku sangat sangat kehilangan seorang nenek terbaik di dunia yang pernah ada, yang pernah aku jumpai. Mbah Setu nama beliau. Taat beragama dan baik hati. Duh nenek andai saja engkau masih disini menemaniku melewati hari-hari. Sungguh beruntungnya aku. Tiada berat hati untuk melangkah. Sungguh Nek kau adalah permataku.

Ini ada sepenggal bait untukmu Nek, semoga engkau senyum disana.

...
biar tercipta malam
aku kan hilang
rindu rupa seorang nenek
angin telah menjemputnya

nisan pembaringan adalah intan
damaikan hati
terbanglah dengan tenang
terbanglah bersama pelangi

bungabunga indah dalam taman surga
menemu kebahagiaan
oh, engkau yang ku cinta maafkanlah kedustaanku

dia adalah berlian
memendarkan kebahagiaan

terbanglah dengan damai
terbanglah bersama kupukupu cantik

akan ku kenang selalu
akan ku ingat selalu
begitu banyak permata engkau berikan padaku

terbanglah dengan ceria
terbanglah bersama kemuliaan
terbanglah oh terbanglah bersama pelangi

Karanganyar,101206

Dipetik dari sini.
-oo0oo-

Kembali ke nenek yang kulihat tadi. Duh aku berdosa. Duh aku bersalah. Namun apa yang kusalahkan. Lantas mengapa semua ini bisa terjadi. Ya Tuhan.

Sepi tak beratur ini sepertinya masih ingin mempermainkanku saja.
Aku ingin membunuhnya.
Sekali saja.

Masih sepi saja. Makin sepi. Pintu merah muda itu kututup. Seperti menutup keterasingan diri pada dunia. Aku mau berkelana. Kemana melangkah pergi.

Karanganyar, 24 April 2009

Masih didalam ruang sunyi ini.